Rumus "Teko"

Aku tak akan bertanya lagi mengapa Tuhan menciptakan makhluk seperti dia. Yang aku percaya, dia diturunkan ke sini untuk menguji kesabaranku.
Dia tidak beken, apalagi disukai orang lain, Tapi kurasa gayanya cukup mewakili betapa buruk akhlaknya, dan betapa sok sucinya dia.
Aku tak ingin marah atau membencinya, karena dia tak terlalu berharga untuk dibenci.

Yang kupercaya, hanya rumus "teko":
Teko, yang berisi air comberan, tidak akan mengeluarkan teh. Begitu juga manusia, manusia yang isinya buruk, pasti akan mengeluarkan hal yang buruk juga. Jadi, jika ada orang yang mengatakan sesuatu yang buruk, itu adalah isi dari tubuhnya sendiri.
Kuharap, itu jadi bahan pertimbangan bagiku untuk memaafkannya.

Coba bayangkan, seandainya tiap orang yang disakitinya tak ada yang benar - benar memaafkannya, siapa lagi yang akan membuat hidupnya tenang dunia akherat?
Aku sendiri tak begitu mengerti, kenapa ia begitu bangga dengan kebodohannya. Seolah olah ia tak Tak takut Tuhan.

Aku kasihan padanya. Aku yakin, seharusnya aku mencoba untuk mengajaknya ke jalan yang lurus. Sebisa mungkin, aku akan memaafkannya sampai pada puncaknya ketika kesabaranku habis. Pada saat itu, dia akan lihat, bahwa aku sadis!

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer