Aku, Pion Kecil itu....
Aku cukup senang menjadi bagian dari organisasi besar ini.
Aku cukup bangga pernah menjadi yang terpilih untuk memiliki pakaian kebesaran kami.
Perkumpulan ini memberiku pengalaman yang langka.
Ia mengajari aku apa itu kedewasaan, pengorbanan, masalah, kerjasama tim, pengertian, teman, kebanggaan, sekaligus rasa bersalah.
Dan aku menikmatinya.
Menikmati kebersamaannya, masalahnya, perpecahannya, ajarannya, dan keegoisannya.
Inilah kelompok besar itu.
Yang kuat dan rapuh dalam waktu yang bersamaan.
Yang berjalan tanpa harus menghargai waktu.
Yang memberi sekalingus menuntut setiap pengurusnya untuk menjadi lebih dewasa.
Sebuah nama, sebuah cerita.....
Juga tentang nama kebanggaan ini yang telah berada di ujung abdi.
Mungkin kami lupa, masih ada yang perlu dibicarakan.
Bagaimana cara melepas semuanya dengan ikhlas dan semestinya.
Karena masih ada yang harus kita ungkap dari perasaan penat masing masing sebelum diwariskan ke generasi selanjutnya.
Dan inilah saatnya kepemimpinan itu menunjukan ketegasannya!
Apa dan bagaimana bisa pensiun dengan saling memaafkan kekhilafan.
Tapi akulah pion kecil itu...
Yang berulang kali merasa bersalah dan menghadapi hal yang membuatku mersa tidak dianggap.
Tapi aku coba untuk ikhlas.
Karena sebagian besar dari kita punya masalah yang sama, ketika tak ada yang berniat mengakui keberadaan diri. Tapi kita punya respon berbeda yang mempersulit keangkuhan itu untuk saling memahami.
Sekaranglah saatnya untuk memperlihatkan kedewasaan itu. Bukan dengan saling menunjuk, tapi maju bersama untuk ikhlas.....
Benar, kan teman - teman.....
Aku cukup bangga pernah menjadi yang terpilih untuk memiliki pakaian kebesaran kami.
Perkumpulan ini memberiku pengalaman yang langka.
Ia mengajari aku apa itu kedewasaan, pengorbanan, masalah, kerjasama tim, pengertian, teman, kebanggaan, sekaligus rasa bersalah.
Dan aku menikmatinya.
Menikmati kebersamaannya, masalahnya, perpecahannya, ajarannya, dan keegoisannya.
Inilah kelompok besar itu.
Yang kuat dan rapuh dalam waktu yang bersamaan.
Yang berjalan tanpa harus menghargai waktu.
Yang memberi sekalingus menuntut setiap pengurusnya untuk menjadi lebih dewasa.
Sebuah nama, sebuah cerita.....
Juga tentang nama kebanggaan ini yang telah berada di ujung abdi.
Mungkin kami lupa, masih ada yang perlu dibicarakan.
Bagaimana cara melepas semuanya dengan ikhlas dan semestinya.
Karena masih ada yang harus kita ungkap dari perasaan penat masing masing sebelum diwariskan ke generasi selanjutnya.
Dan inilah saatnya kepemimpinan itu menunjukan ketegasannya!
Apa dan bagaimana bisa pensiun dengan saling memaafkan kekhilafan.
Tapi akulah pion kecil itu...
Yang berulang kali merasa bersalah dan menghadapi hal yang membuatku mersa tidak dianggap.
Tapi aku coba untuk ikhlas.
Karena sebagian besar dari kita punya masalah yang sama, ketika tak ada yang berniat mengakui keberadaan diri. Tapi kita punya respon berbeda yang mempersulit keangkuhan itu untuk saling memahami.
Sekaranglah saatnya untuk memperlihatkan kedewasaan itu. Bukan dengan saling menunjuk, tapi maju bersama untuk ikhlas.....
Benar, kan teman - teman.....

waah.. OSIS ya kak?
BalasHapusHmm, kurng lbih bgitu. Hehehe.
BalasHapusseperti halnya diriQ..
BalasHapusseperti yg td sempet qta ngbrol bntra...