Kesetiaan dan Anjing

Untuk kedua kalinya, nonton film Hachiko.
Gara - gara itu, ada dua hal yang langsung nempel di kepalaku, yaitu : Kesetiaan dan..... Anjing.

Kesetiaan, sampai sekarang aku nggak tau batasnya ada dimana. Ketika seseorang yang sudah berpasangan mencintai orang lain, ia tidak setia. Tapi ada teori yang bilang bahwa cinta datang dan pergi tanpa diduga. Meskipun kadang ada orang yang sengaja mencoba untuk mencintai orang lain, dan mengikuti arusnya. Lalu, poligami? Juga tidak setia? Tapi itu boleh.
Terlalu rumit ketika seseorang memiliki banyak prinsip tentang kesetiaan, dan harus berpikir keras ketika ia mengalami hal yang dilematis. Antara mengikuti keinginan sesuai keadaan, atau mempertahankan prinsipnya.
Tidak sesederhana Hachiko yang setia menunggu majikannya di depan stasiun selama 10 tahun dengan setia. Padahal, semua orang sudah berusaha membuatnya mengerti bahwa majikannya sudah meninggal. Ini kesetiaan, atau ketidakpahaman? Entahlah. Yang jelas, ia menunggu selama 10 tahun sampai ia mati, tanpa berpikir untuk berhenti menunggu dan mencari majikan lain. Ia melakukannya. Sebuah kesetiaan yang bahkan manusia tertatih untuk memahami, apalagi melakukannya.
Oke, sulit membandingkan anjing dengan manusia. Anjing tidak akan berpikir tentang masa depannya. Tapi manusia, dengan segala akalnya akan berpikir bagaimana melanjutkan hidupnya, meski tanpa kesetiaan. Plus minus. Ketika manusia terlalu memikirkan kesetiaan, di beberapa kasus, ia akan berhenti pada satu titik. Tapi ketika ia tidak mau tau tahu tentang kesetiaan, tidak akan ada batas bernama moral dalam perilakunya.

Jadi, apa kesetiaan itu? Tergantung apakah kesetiaan membuatmu bermoral dan sebisa mungkin tidak menyakiti orang lain.

Komentar

Postingan Populer