Rindu yang Terlarang
Waktu SMA dulu, aku selalu pengen menghindar dari pelajaran Fisika, Kimia, bahasa perancis, dan kadang2 matematika juga. Lantas kenapa saya masuk jurusan IPA? Mungkin itu namanya takdir.
Tapi ada juga pelajaran yang kutunggu - tunggu. OR dan seni drama. Kenapa? Alasannya sederhana. Karena di dua mata pelajaran itulah aku bisa keluar kelas selama pelajaran (kan biasanya ourdoor), selain itu gurunya juga sering nggak ada. Hohoho.
Tapi sayangnya, OR dan seni drama tidak lagi ada di masa kuliah.... T.T Yang tersisa tinggal keping2 rindu pada mata pelajaran tersebut. *apaan sih*
Kalo pelajaran OR, aku paling seneng pas olah raga permainan. Meskipun aku nggak bisa masukin bola ke ring basket ataupun mukul bola kasti dengan baik dan benar, tapi aku seneng aja ikut kejar2an di lapangan. Aku seneng main badminton sama Lita meskipun di lapangan cuma tinggal kami berdua yang berjenis perempuan. Aku seneng lempar2an bola voli sama Asti meskipun yang lain pada ngiyub. Materi atletik juga seneng, meskipun tolak peluruku nggak sampe 5 m, meskipun lempar lembingnya nggak nancep ke tanah, meskipun lompat jauhnya cuma 2 m. Nggak jago, tapi seneng aja. Cuma satu materi dari OR yg kubenci, yaitu : lari 2,4 km. Kenapa? Mungkin karena "lari" selalu berubah jdi "jalan" 2,4km.
Seni Drama itu lama2 ngangenin. Meskipun dulu aku sempet sebel sama gurunya yang sibuk dan sakleknya nggak ketulungan. Meskipun capek dan sering lepas kontrol emosi kalo lagi punya hak "ngatur", (dengan bonus dirasani oleh teman2 yang diatur). Meskipun kalau lagi latian akting ato latian suara kadang malu diliatin sana guru ato temen yang lewat. Meskipun kadang harus melakukan gerakan2 aneh di lapangan. Tapi tetep aja ngangenin. Aku memang suka aliran seni yang ini. Seni drama sering "maksa" aku untuk nulis. Naskah drama lah, pantomim lah, operet lah, drama radio lah, film lah atau kadang sekadar ide cerita ataupun tokoh fiktif. Untuk nyari ide, kadang aku duduk di depan meja belajar jam 12 malem sambil merem cari Ilham, sedikit coret2 konsep dan naskah baru selesai jam 2 pagi. Aku menikmati itu, kok. Pernah juga dengan du2k di dpn komputer lama bgt sampe komputernya panas. Tapi sayangnya, aku nggak punya file naskah2 lamaku itu. Tulisan2 tanganku udah berce2ran stelah aku lu2s SMA, dan komputer yang dulu kupake udah nggak bisa hidup lagi, alhasil, semua datanya tak terselamatkan. *hiks*
Kalo dipikir pikir, sekarang aku nggak pernah nulis cerita utuh lagi. Padahal dulu bisa lumayan sering dan seneng (SMP-SMA). Tugas bahasa indonesia, seni drama, mading sekolah, kadang2 sekedar seneng2 atau ikut lomba bebas *dan nggak pernah menang T.T*. Bukannya menyerah, sih. Cuma mungkin untuk hal2 kayak gini, kadang2 memang butuh sedikit "paksaan". Sekarang paksaan dari luar udah sulit dicari, nggak ada yang mengharuskan. Pilihannya sekarang, tinggal dari dalam. Paksa diri sendiri untuk nulis sejelek apapun hasilnya nanti, atau tetep stagnan menikmati masa2 tanpa paksaan dan tanpa karya.
Yah, meskipun rindu sama hal - hal kayak gitu, tetep aja tinggal kenangan. Huft.
Tapi ada juga pelajaran yang kutunggu - tunggu. OR dan seni drama. Kenapa? Alasannya sederhana. Karena di dua mata pelajaran itulah aku bisa keluar kelas selama pelajaran (kan biasanya ourdoor), selain itu gurunya juga sering nggak ada. Hohoho.
Tapi sayangnya, OR dan seni drama tidak lagi ada di masa kuliah.... T.T Yang tersisa tinggal keping2 rindu pada mata pelajaran tersebut. *apaan sih*
Kalo pelajaran OR, aku paling seneng pas olah raga permainan. Meskipun aku nggak bisa masukin bola ke ring basket ataupun mukul bola kasti dengan baik dan benar, tapi aku seneng aja ikut kejar2an di lapangan. Aku seneng main badminton sama Lita meskipun di lapangan cuma tinggal kami berdua yang berjenis perempuan. Aku seneng lempar2an bola voli sama Asti meskipun yang lain pada ngiyub. Materi atletik juga seneng, meskipun tolak peluruku nggak sampe 5 m, meskipun lempar lembingnya nggak nancep ke tanah, meskipun lompat jauhnya cuma 2 m. Nggak jago, tapi seneng aja. Cuma satu materi dari OR yg kubenci, yaitu : lari 2,4 km. Kenapa? Mungkin karena "lari" selalu berubah jdi "jalan" 2,4km.
Seni Drama itu lama2 ngangenin. Meskipun dulu aku sempet sebel sama gurunya yang sibuk dan sakleknya nggak ketulungan. Meskipun capek dan sering lepas kontrol emosi kalo lagi punya hak "ngatur", (dengan bonus dirasani oleh teman2 yang diatur). Meskipun kalau lagi latian akting ato latian suara kadang malu diliatin sana guru ato temen yang lewat. Meskipun kadang harus melakukan gerakan2 aneh di lapangan. Tapi tetep aja ngangenin. Aku memang suka aliran seni yang ini. Seni drama sering "maksa" aku untuk nulis. Naskah drama lah, pantomim lah, operet lah, drama radio lah, film lah atau kadang sekadar ide cerita ataupun tokoh fiktif. Untuk nyari ide, kadang aku duduk di depan meja belajar jam 12 malem sambil merem cari Ilham, sedikit coret2 konsep dan naskah baru selesai jam 2 pagi. Aku menikmati itu, kok. Pernah juga dengan du2k di dpn komputer lama bgt sampe komputernya panas. Tapi sayangnya, aku nggak punya file naskah2 lamaku itu. Tulisan2 tanganku udah berce2ran stelah aku lu2s SMA, dan komputer yang dulu kupake udah nggak bisa hidup lagi, alhasil, semua datanya tak terselamatkan. *hiks*
Kalo dipikir pikir, sekarang aku nggak pernah nulis cerita utuh lagi. Padahal dulu bisa lumayan sering dan seneng (SMP-SMA). Tugas bahasa indonesia, seni drama, mading sekolah, kadang2 sekedar seneng2 atau ikut lomba bebas *dan nggak pernah menang T.T*. Bukannya menyerah, sih. Cuma mungkin untuk hal2 kayak gini, kadang2 memang butuh sedikit "paksaan". Sekarang paksaan dari luar udah sulit dicari, nggak ada yang mengharuskan. Pilihannya sekarang, tinggal dari dalam. Paksa diri sendiri untuk nulis sejelek apapun hasilnya nanti, atau tetep stagnan menikmati masa2 tanpa paksaan dan tanpa karya.
Yah, meskipun rindu sama hal - hal kayak gitu, tetep aja tinggal kenangan. Huft.

Komentar
Posting Komentar