Niat dan Nekat Vs Pengalaman
Hmmm, akhirnya ditolak juga. Rasa2nya, udah lama aku nggak ditolak. Entah karena selalu diterima, atau sudah lama tidak lagi berani mencoba.
Beberapa hari yang lalu aku daftar panitia ospek di kampus. Daftarnya untuk bagian medis, meskipun aku sadar bahwa nggak punya modal sama sekali dalam bidang ini. Aku nggak pernah ikut organisasi PMR di SMP - SMA atau gerakan ksehatan lainnya, modalku cuma ingatan dokter kecil SD (yg jlas gak akan diperhitungkan), plus niat dan nekat. Dan dengan sukses, dari 22 orang yang daftar, aku nggak masuk daftar 5 orang yang diterima, aku ditolak. Yaiya, lah. Sebenernya nggak terlalu heran juga. Niat dan nekat adalah 2 hal yang saling melengkapi, tapi dalam hal ini, akan sangat sulit diterima.
Sebenernya alasan lain daftar medis selain niat adalah karena pengen nyoba yang baru aja. Bidang yang buat aku harus belajar. Tapi mungkin karena keberadaanku di medis akan membahayakan peserta ospek nantinya, aku ditolak. Yah, banyak alasan yang membuat aku ditolak. Dan aku tau, mungkin ini bukan cara yang tepat untuk keluar dari zona nyaman. Dan lagi2, aku kembali ke dalam kenyamanan.
Karena sekarang aku dalam masa2 liburan dan jarang mikir (kecuali mikirin kemungkinan terburuk untuk nilai smester ini yang belum keluar), akhirnya pikiranku melayang layang deh.
Tanpa link yang jelas, aku inget waktu daftar jadi OSIS di SMA, tanpa alasan yang jelas, aku bisa jadi salah satu dari 20 yang diterima dari lebih dari 100 pendaftar lainnya. Waktu itu aku seneng banget, coy *anak SMA*. Bangga rasanya bisa pakai jaket kebesaran OSIS yang emang bener2 kebesaran itu (aku pesen L, harusnya aku pesen M aja, ya). Dan dari organisasi itulah aku mulai belajar. Banyak konflik, hal2 yang mungkin kalau kita pikir lagi, sebenernya bisa diselesaikan dengan du2k semeja. Niat, obsesi, sistem dan ide2 yang terang2an kutentang, tapi akhirnya harus tetap kudukung ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa aku anggota kelompok. Dan betapa anehnya ketika kita dipaksa menghadapi perbedaan dengan mengorbankan diri sendiri, itulah yang aku nggak pernah siap. Mungkin aku yang egois.
Yah, dan di dalamnya, aku selalu ikut dalam kepanitiaan tanpa harus ditolak, tanpa harus memiliki banyak pengalaman. Tapi sekarang kondisi sudah berbeda. Kenyataan di luar sana butuh pengalaman meski yang berpengalaman juga butuh kesempatan pertama. Jadi, aku akan coba untuk melek, dan cari celah mana yang bisa kucoba untuk dimasuki.
Siapsiap.
Sebenernya alasan lain daftar medis selain niat adalah karena pengen nyoba yang baru aja. Bidang yang buat aku harus belajar. Tapi mungkin karena keberadaanku di medis akan membahayakan peserta ospek nantinya, aku ditolak. Yah, banyak alasan yang membuat aku ditolak. Dan aku tau, mungkin ini bukan cara yang tepat untuk keluar dari zona nyaman. Dan lagi2, aku kembali ke dalam kenyamanan.
Karena sekarang aku dalam masa2 liburan dan jarang mikir (kecuali mikirin kemungkinan terburuk untuk nilai smester ini yang belum keluar), akhirnya pikiranku melayang layang deh.
Tanpa link yang jelas, aku inget waktu daftar jadi OSIS di SMA, tanpa alasan yang jelas, aku bisa jadi salah satu dari 20 yang diterima dari lebih dari 100 pendaftar lainnya. Waktu itu aku seneng banget, coy *anak SMA*. Bangga rasanya bisa pakai jaket kebesaran OSIS yang emang bener2 kebesaran itu (aku pesen L, harusnya aku pesen M aja, ya). Dan dari organisasi itulah aku mulai belajar. Banyak konflik, hal2 yang mungkin kalau kita pikir lagi, sebenernya bisa diselesaikan dengan du2k semeja. Niat, obsesi, sistem dan ide2 yang terang2an kutentang, tapi akhirnya harus tetap kudukung ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa aku anggota kelompok. Dan betapa anehnya ketika kita dipaksa menghadapi perbedaan dengan mengorbankan diri sendiri, itulah yang aku nggak pernah siap. Mungkin aku yang egois.
Yah, dan di dalamnya, aku selalu ikut dalam kepanitiaan tanpa harus ditolak, tanpa harus memiliki banyak pengalaman. Tapi sekarang kondisi sudah berbeda. Kenyataan di luar sana butuh pengalaman meski yang berpengalaman juga butuh kesempatan pertama. Jadi, aku akan coba untuk melek, dan cari celah mana yang bisa kucoba untuk dimasuki.
Siapsiap.

Komentar
Posting Komentar