Dengan Sepenuh Hati
Perempuan itu memakai baju kelelawar lengan tigaperempat warna gelap dengan selendang bermanik2 dililitkan sebagai kerudung. Ia menenteng bungkus donat dan tas tangan besar. Gerakannya cukup lincah meskipun menggunakan highheels. Sepertinya ia sedang sibuk mengurus barang2 kulakannya untuk dimasukkan ke dalam bagasi bus patas ini. Aku yang naik lebih dulu mengamatinya dari jendela bus.
"Ibu2 pebisnis yang gaul." pikirku saat itu.
Bus berangkat sesaat setelah perempuan itu naik dan duduk di bangku belakangku. Aku mulai sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku menelpon ibuku untuk mendiskusikan perubahan mata kuliah yang harus kuambil. Tidak lama setelah aku menutup telepon, perempuan di belakangku itupun berbicara dalam telepon. Aku mendengarnya dengan sangat jelas. Tidak mungkin aku bisa mengingat semua yang ia bicarakan. Yang jelas, aku hanya menangkap beberapa hal yang entah mengapa sulit lepas dari ingatanku.
Perempuan itu bercerita tentang usaha ia dan suaminya untuk memiliki anak dalam 11 tahun masa pernikahan mereka. Seluruh pengobatan baik medis ataupun alternatif telah mereka coba.
Perempuan itu pun membicarakan soal panti asuhan. Ia dan suaminya ingin mengubah nama orang tua di akte seorang anak menjadi nama mereka. Namun dinas sosial tidak mengijinkannya. Dan akhirnya mereka tidak melanjutkan usahanya lagi tentang panti asuhan itu.
" Gimana kalo anak itu sudah bisa baca dan tulis, terus menemukan nama orang tua di akte kelahirannya bukan nama saya dan suami saya sebagai ayah dan ibunya. Mungkin ini yang tertulis di atas kertas, tapi masalah hati, tetep tidak bisa dibohongi. Rasanya masih ada yang mengganjal kalau aktenya masih seperti itu. Akhirnya kami mundur."
Bahkan, ia pernah mencoba inseminasi sampai 2 kali, dua2nya gagal. Sekali inseminasi 15 juta, dan 30 juta terbuang begitu saja.
" Kalau biaya medis selama 11 tahun itu dikumpulin, sudah bisa untuk beli mobil merci. Belum lagi yang alternatif."
5 tahun pertama pernikahan ia memang menjadi sangat sensitif dan emosional. Ada orang tanya sedikit tentang anak, ia akan nangis, marah, dan sulit untuk memberi jawaban.
" Tapi sekarang sudah 11 tahun, dan 11 tahun itu bukan waktu yang singkat. Kalau sekarang orang mau tanya tentang kenapa belum punya anak, aku sudah bisa kasih jawaban. Tidak terlalu emosional lagi."
Dan ada satu lagi kalimat yang aku ingat tentang dia.
" Kami sudah sampai pada titik yang ikhlas, tapi tidak akan berhenti untuk ikhtiar. Hanya saja tidak ngoyo lagi seperti dulu."
Sepertinya beberapa imej yang aku lekatkan padanya mengikuti kata "gaul" itu lenyap. Mungkin, kehidupan sebenarnya jauh lebih sulit daripada yang kudengar siang itu.
Mungkin tentang bagaimana ia menghadapi keinginannya sendiri untuk menjadi seorang ibu. Mungkin tentang bagaimana tekanan dari lingkungan yang memaksanya melakukan hal - hal yang sebenarnya tidak ia inginkan. Mungkin tentang bagaimana rasa lelah, putus asa dan seluruh emosi yang tidak mungkin diungkap semua. Atau mungkin juga rasa bersalah karena penundaan ini, sebagai seorang wanita terhadap suaminya.
Aku memang belum pernah menunggu dan berusaha selama 11 tahun untuk memiliki anak, maka aku belum bisa memahami perasaan perempuan itu. Tapi aku tau bagaimana,perasaanya karena aku juga seorang perempuan.
Maka dengan sepenuh hati, untuk perempuan yang tidak kuketahui namanya, dalam penantian yang masih belum berakhir.
" Tuhan, jika kau berkehendak menjadikannya seorang ibu, mudahkanlah jalannya dalam menjadi ibu. Tapi jika tidak, berilah ia kelapangan hati dalam menerima seluruh keputusan dari Mu, meskipun itu tidak sesuai dengan keinginannya. Amin."
"Ibu2 pebisnis yang gaul." pikirku saat itu.
Bus berangkat sesaat setelah perempuan itu naik dan duduk di bangku belakangku. Aku mulai sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku menelpon ibuku untuk mendiskusikan perubahan mata kuliah yang harus kuambil. Tidak lama setelah aku menutup telepon, perempuan di belakangku itupun berbicara dalam telepon. Aku mendengarnya dengan sangat jelas. Tidak mungkin aku bisa mengingat semua yang ia bicarakan. Yang jelas, aku hanya menangkap beberapa hal yang entah mengapa sulit lepas dari ingatanku.
Perempuan itu bercerita tentang usaha ia dan suaminya untuk memiliki anak dalam 11 tahun masa pernikahan mereka. Seluruh pengobatan baik medis ataupun alternatif telah mereka coba.
Perempuan itu pun membicarakan soal panti asuhan. Ia dan suaminya ingin mengubah nama orang tua di akte seorang anak menjadi nama mereka. Namun dinas sosial tidak mengijinkannya. Dan akhirnya mereka tidak melanjutkan usahanya lagi tentang panti asuhan itu.
" Gimana kalo anak itu sudah bisa baca dan tulis, terus menemukan nama orang tua di akte kelahirannya bukan nama saya dan suami saya sebagai ayah dan ibunya. Mungkin ini yang tertulis di atas kertas, tapi masalah hati, tetep tidak bisa dibohongi. Rasanya masih ada yang mengganjal kalau aktenya masih seperti itu. Akhirnya kami mundur."
Bahkan, ia pernah mencoba inseminasi sampai 2 kali, dua2nya gagal. Sekali inseminasi 15 juta, dan 30 juta terbuang begitu saja.
" Kalau biaya medis selama 11 tahun itu dikumpulin, sudah bisa untuk beli mobil merci. Belum lagi yang alternatif."
5 tahun pertama pernikahan ia memang menjadi sangat sensitif dan emosional. Ada orang tanya sedikit tentang anak, ia akan nangis, marah, dan sulit untuk memberi jawaban.
" Tapi sekarang sudah 11 tahun, dan 11 tahun itu bukan waktu yang singkat. Kalau sekarang orang mau tanya tentang kenapa belum punya anak, aku sudah bisa kasih jawaban. Tidak terlalu emosional lagi."
Dan ada satu lagi kalimat yang aku ingat tentang dia.
" Kami sudah sampai pada titik yang ikhlas, tapi tidak akan berhenti untuk ikhtiar. Hanya saja tidak ngoyo lagi seperti dulu."
Sepertinya beberapa imej yang aku lekatkan padanya mengikuti kata "gaul" itu lenyap. Mungkin, kehidupan sebenarnya jauh lebih sulit daripada yang kudengar siang itu.
Mungkin tentang bagaimana ia menghadapi keinginannya sendiri untuk menjadi seorang ibu. Mungkin tentang bagaimana tekanan dari lingkungan yang memaksanya melakukan hal - hal yang sebenarnya tidak ia inginkan. Mungkin tentang bagaimana rasa lelah, putus asa dan seluruh emosi yang tidak mungkin diungkap semua. Atau mungkin juga rasa bersalah karena penundaan ini, sebagai seorang wanita terhadap suaminya.
Aku memang belum pernah menunggu dan berusaha selama 11 tahun untuk memiliki anak, maka aku belum bisa memahami perasaan perempuan itu. Tapi aku tau bagaimana,perasaanya karena aku juga seorang perempuan.
Maka dengan sepenuh hati, untuk perempuan yang tidak kuketahui namanya, dalam penantian yang masih belum berakhir.
" Tuhan, jika kau berkehendak menjadikannya seorang ibu, mudahkanlah jalannya dalam menjadi ibu. Tapi jika tidak, berilah ia kelapangan hati dalam menerima seluruh keputusan dari Mu, meskipun itu tidak sesuai dengan keinginannya. Amin."

Komentar
Posting Komentar