Mereka Ada

Minggu lalu, Aku sempat punya kesempatan untuk duduk sendirian di ruang kuliah karena datang ujian terlalu awal. *tumben*

Aku pilih duduk di kursi dosen, di ujung paling depan menghadap kursi mahasiswa. Sendirian di ruang kuliah bikin kognisiku melayang kemana mana. Ruang ini mungkin menjadi permulaan para psikolog hebat belajar mengenali manusia lebih dalam. Mataku tertuju pada lembaran materi kuliah yang tertinggal di bawah kursi. Kubaca sekilas, tentang ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Ada autis, MR (mental retarded), ADHD, dan lain2. Jadi keinget, beberapa waktu lalu aku sempat berkunjung ke salah satu tempat mereka, sekolah khusus dimana mereka mendapatkan pendidikan yang seharusnya mereka dapatkan. Memang awalnya karena tugas, dan sempat terasa sulit dalam cari sekolah, tapi setelah selesai, rasanya malah kepingin kesana lagi.

Di sana, ada beberapa anak ABK dengan usia yang berbeda. Biasanya, satu murid ditangani satu guru. Aku masih inget, 30 menit setelah masuk kelas klasikal (ruang belajar bersama), aku nahan nangis karena ngeliat guru2 baca ayat2 Quran sambil mengelus anak2 ampuhannya.
Autis banyak menimbulkan keterbatasan. Menghambat perkembangan komunikasi dan proses perkembangan.
Salah satu anak yang jadi subjek pengamatanku. Usianya 5 tahun, dan belum bisa bicara sama sekali. Dia tidak merespon keberadaanku, meskipun aku ini orang baru di sana.
Ada juga kembar laki laki. Salah satunya terkena gangguan emosi agak hiperaktif. Kembarannya menyandang autis sekaligus hiperaktif. Hari pertama aku kesana, aku dipukuli pakai cover buku gambar oleh penyandang autis hiperaktif ini. Hari kedua, aku dilempar sendal. Bahkan salah satu teman ada yang dilempar helm. *sayang nggak boleh bales*
Ada satu lagi kembar, kembar laki perempuan. Anak yang laki2 menyandang autis hipoaktif, sedang yang perempuan menyandang MR. Dalam bayanganku, adalah anugrah luar biasa dan berlipat memiliki anak kembar laki perempuan sekaligus. Tapi mungkin, apa yang terjadi juga membuat kesedihannya berlipat ganda. Ketika sadar bahwa keduanya, tidak bisa sama dengan anak2 yang lain.

Sempat terpikir olehku, betapa beratnya beban yang harus dipikul, mengingat bahwa keterbatasan2 itu memungkinkan seorang manusia tidak mampu mandiri dalam merawat dirinya sendiri. Bahkan beberapa ada yang btuh perawatan seumur hidup. Dan mereka, tetap manusia.

"Tuhan, mengapa kau ciptakan gangguan mental yang dibawa sejak kecil hingga dewasa? Bagaimana cara mereka untuk bertanggung jawab padamu, sedangkan belajar hal2 yang umum adalah hal yang sulit untuknya?"

"Aku yang akan bertanggungjawab atas ciptaanKu."

*Rahasia Ilahi*

Mungkin yang seharusnya kulakukan adalah belajar dengan benar, agar pada waktunya nanti, bisa sedikit berarti untuk mereka.

Komentar

Postingan Populer