Rantai yang Telah Lama Terputus
Ter-untuk kamu, perempuan yang menjadi bagian dari masa laluku.
Membuka surat-suratmu terdahulu membuatku mengenang apa yang pernah terjadi diantara kita. Tidak terasa, itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Perjalanan kita yang terjal, yang sempat terlalui dengan baik.
Kita rasakan bersama betapa sulitnya menakhlukkan ego masing-masing untuk menjalin hubungan kita yang baru. Meskipun harus menghadapi sifat arogan dan kelabilan emosimu, kamu pernah membuatku merasa memiliki. Meskipun sempat membuatku tidak nyaman dengan ancaman yang tak beralasan dan keegoisan diri, kamu pernah membuatku merasa begitu berarti.
Kamu membuatku memiliki alasan untuk selalu membuka telapak tanganku untukmu. Kamu yang mau menerima kekuranganku saat itu dan menjalani hari-hari di dekatku. Kamu yang mengatakan bahwa kamu mau menjadi orang yang berarti untukku. Kamu mau menerima pedasnya kritikanku dan bersama-sama bangkit untuk menciptakan hubungan yang erat.
Dan kemudian kita tinggalkan itu bersama-sama. Berkali-kali salah paham membuatku merasakan betapa jahatnya kamu. Berkali-kali kepasifanmu membuatku tidak lagi menjadi bagian dari hari-harimu. Berkali-kali kamu gagal menghadapi keegoisan diri. Berkali-kali juga aku diangkat oleh tangan lain dalam menghadapimu.
Oh ya, kamu melemparkan kalimat yang terlalu mengecewakan untuk kulupakan. Yang membuatku kemudian tersadar, bahwa "persahabatan" sudah tidak ada maknanya lagi untuk kita. Saat itulah aku tau, sampai mana batas kesetiaanmu melihatku berada di titik paling bawah dalam hidup.
Tahun-tahun berikutnya membuatku semakin tersadar bahwa aku telah ditinggalkan. Diingat hanya ketika kamu butuh teman untuk mengobati kesepianmu. Betapa keadaan berjalan semakin tidak seimbang. Ketika kamu menukar segala yang lama dengan orang-orang baru.
Aku melepasmu dengan santai, sebab rasa kecewanya membuatku tidak lagi merasa kamu cukup berarti. Mungkin bukan kamu yang salah, mungkin aku yang tidak bisa lagi menerima kamu. Atau mungkin kamu yang tidak bisa lagi mengimbangiku.
Aku percaya pada persahabatan, hanya saja mungkin kita bukan lagi kombinasi yang tepat. Atau mungkin saja magnet di antara kita sudah kehilangan gayanya. Dibalik kelemahan dan kelebihanmu, aku bersyukur pernah mengenalmu.
Dan kini, setelah bertahun-tahun terlewati, setelah kita memiliki kehidupan sendiri-sendiri, aku tetap memenuhi janjiku untuk tidak melupakanmu.
Membuka surat-suratmu terdahulu membuatku mengenang apa yang pernah terjadi diantara kita. Tidak terasa, itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Perjalanan kita yang terjal, yang sempat terlalui dengan baik.
Kita rasakan bersama betapa sulitnya menakhlukkan ego masing-masing untuk menjalin hubungan kita yang baru. Meskipun harus menghadapi sifat arogan dan kelabilan emosimu, kamu pernah membuatku merasa memiliki. Meskipun sempat membuatku tidak nyaman dengan ancaman yang tak beralasan dan keegoisan diri, kamu pernah membuatku merasa begitu berarti.
Kamu membuatku memiliki alasan untuk selalu membuka telapak tanganku untukmu. Kamu yang mau menerima kekuranganku saat itu dan menjalani hari-hari di dekatku. Kamu yang mengatakan bahwa kamu mau menjadi orang yang berarti untukku. Kamu mau menerima pedasnya kritikanku dan bersama-sama bangkit untuk menciptakan hubungan yang erat.
Dan kemudian kita tinggalkan itu bersama-sama. Berkali-kali salah paham membuatku merasakan betapa jahatnya kamu. Berkali-kali kepasifanmu membuatku tidak lagi menjadi bagian dari hari-harimu. Berkali-kali kamu gagal menghadapi keegoisan diri. Berkali-kali juga aku diangkat oleh tangan lain dalam menghadapimu.
Oh ya, kamu melemparkan kalimat yang terlalu mengecewakan untuk kulupakan. Yang membuatku kemudian tersadar, bahwa "persahabatan" sudah tidak ada maknanya lagi untuk kita. Saat itulah aku tau, sampai mana batas kesetiaanmu melihatku berada di titik paling bawah dalam hidup.
Tahun-tahun berikutnya membuatku semakin tersadar bahwa aku telah ditinggalkan. Diingat hanya ketika kamu butuh teman untuk mengobati kesepianmu. Betapa keadaan berjalan semakin tidak seimbang. Ketika kamu menukar segala yang lama dengan orang-orang baru.
Aku melepasmu dengan santai, sebab rasa kecewanya membuatku tidak lagi merasa kamu cukup berarti. Mungkin bukan kamu yang salah, mungkin aku yang tidak bisa lagi menerima kamu. Atau mungkin kamu yang tidak bisa lagi mengimbangiku.
Aku percaya pada persahabatan, hanya saja mungkin kita bukan lagi kombinasi yang tepat. Atau mungkin saja magnet di antara kita sudah kehilangan gayanya. Dibalik kelemahan dan kelebihanmu, aku bersyukur pernah mengenalmu.
Dan kini, setelah bertahun-tahun terlewati, setelah kita memiliki kehidupan sendiri-sendiri, aku tetap memenuhi janjiku untuk tidak melupakanmu.

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus(terhapus dengan setengah sadar)
Hapussedih sih kalo hubungan sama temen terdekat jadi kurang akur, tapi, kamu kan masih punya sahabat-sahabat lain. dan sejujurnya, kamu gak pernah kehilangan sahabat. sahabat kayak bintang. walaupun gak selalu keliatan, dia selalu ada untuk bersinar dan memberi tahu arah jalan. mungkin saat ini bintangmu sedang tertutup awan. :)
Yah, begitulah, meg... Dan ternyata, hanya beberapa yang kemudian bertahan untuk jadi bintang. Tidak selalu kelihatan, tapi terasa.... :)
Hapus