Dinding Kaca
Dua hal mengapa aku menuliskan ini. Karena kamu adalah orang yang telah bersabar berada di dekatku selama beberapa tahun, dan karena aku menyayangimu.
Seperti sekenario yang telah lama tertulis, kita bertemu sejak lama dan baru saling menyadari belasan tahun setelah itu. Untuk kemudian mengadakan cerita yang bertahan cukup lama.
Meskipun kamu tidak pernah mengijinkan aku untuk merasa memiliki, kamu tetap bertahan. Meskipun kadang kamu tenggelam dalam perasaan yang menyiksa, aku pun memilih bertahan. Meskipun belum pernah berhasil membuatmu tetap melihatku, aku tetap mendengarkan. Meskipun aku cukup meledak-ledak, kamu tetap tersenyum. Kita tidak pernah memberikan alasan untuk bertahan, tapi nyatanya kita tetap kembali.
Mungkin kamu belum begitu menyadari, bahwa aku tidak pernah berniat untuk membiarkanmu berjalan sendiri. Mungkin kau belum begitu mengerti, bahwa aku tau, seberapa ketulusan itu terlihat dari senyum dan sorot matamu. Meskipun sering tidak terlihat, tapi aku ingin kamu tau bahwa aku ada.
Aku hanya ingin menawarkan tanganku. Tapi kamu tidak perlu khawatir, aku tau sebatas mana kamu bisa melihatku. Dan aku tau, siapa yang akan tetap kamu dengarkan dengan seksama sampai akhir dengan seluruh indra lengkap. Aku tidak akan pernah memaksa, hanya berharap kamu membiarkan dirimu tetap terlihat olehku.
Seseorang terkadang memang butuh berdialog dengan dirinya, hanya untuk meyakinkan diri bahwa dia patut dipercaya. Tapi, aku pernah memberikan waktu terlalu banyak untuk diriku sendiri, sampai2 rasanya ingin keluar dari kehidupan. Dan inilah yang tidak kuinginkan terjadi padamu.
Bisa kamu beritahu aku, bagaimana caranya aku bisa memberimu pengkondisian yang akan menguatkanmu menghadapi apapun?
Seperti sekenario yang telah lama tertulis, kita bertemu sejak lama dan baru saling menyadari belasan tahun setelah itu. Untuk kemudian mengadakan cerita yang bertahan cukup lama.
Meskipun kamu tidak pernah mengijinkan aku untuk merasa memiliki, kamu tetap bertahan. Meskipun kadang kamu tenggelam dalam perasaan yang menyiksa, aku pun memilih bertahan. Meskipun belum pernah berhasil membuatmu tetap melihatku, aku tetap mendengarkan. Meskipun aku cukup meledak-ledak, kamu tetap tersenyum. Kita tidak pernah memberikan alasan untuk bertahan, tapi nyatanya kita tetap kembali.
Mungkin kamu belum begitu menyadari, bahwa aku tidak pernah berniat untuk membiarkanmu berjalan sendiri. Mungkin kau belum begitu mengerti, bahwa aku tau, seberapa ketulusan itu terlihat dari senyum dan sorot matamu. Meskipun sering tidak terlihat, tapi aku ingin kamu tau bahwa aku ada.
Aku hanya ingin menawarkan tanganku. Tapi kamu tidak perlu khawatir, aku tau sebatas mana kamu bisa melihatku. Dan aku tau, siapa yang akan tetap kamu dengarkan dengan seksama sampai akhir dengan seluruh indra lengkap. Aku tidak akan pernah memaksa, hanya berharap kamu membiarkan dirimu tetap terlihat olehku.
Seseorang terkadang memang butuh berdialog dengan dirinya, hanya untuk meyakinkan diri bahwa dia patut dipercaya. Tapi, aku pernah memberikan waktu terlalu banyak untuk diriku sendiri, sampai2 rasanya ingin keluar dari kehidupan. Dan inilah yang tidak kuinginkan terjadi padamu.
Bisa kamu beritahu aku, bagaimana caranya aku bisa memberimu pengkondisian yang akan menguatkanmu menghadapi apapun?

Komentar
Posting Komentar