Proposal Setengah Hidup
Sekarang, kepalaku berdenyut-denyut kecil. Mungkin salah satu bentuk protes karena sudah diforsir lebih dari 15 jam sejak berangkat kuliah pagi hingga pulang malam ini. Ingin tidur, tapi hati masih ingin melakukan banyak hal.
Sejak tahun lalu, ada yang mengganggu di kepalaku. PKM. Yah, PKM. Sejak dipaksa membuat proposal PKM oleh seorang dosen yang.... Uh..., tidak etis kalau ku maki-maki di sini. Sebab beliau membuat saya puas atas nilai mata kuliah ini.
Proposal PKM yang merupakan paksaan itu, anggotanya ada 4 ekor. Aku, A, B, dan C. Aku, A, dan B berada di kelas yang sama. Kami membuat proposal atas dasar keterpaksaan yang menyiksa. Sedangkan C, dia itu korban dari luar yang kami mintai bantuan secara tidak sopan, sekaligus menjadikannya ketua PKM kami. Dia jadi ketua PKM karena B, yang sudah setuju menjadi ketua malah menghilang di masa krisis.
Sudah sejak awal, PKM ini membuat aku makan hati. Kesal berkali kali, marah, kecewa, sekaligus sedih.
Pada H-1 sebagai hari terakhir pengumpulan PKM, aku memperbaiki dan menyelesaikan proposal itu hanya berdua dengan A. Hari H, sebagai hari terakhir pengumpulan proposal, aku dan A berlari2 untuk ngeprint, cari dosen pembimbing, minta tanda tangan ini itu, dan menyelesaikan urusan administrasi yang lain. Berdua. C membantu dengan dukungan sebagai pihak luar yang kami catut namanya, sedangkan B menjadi orang paling dicari oleh aku dan A. Dan entah kemana dia saat itu. Aku cukup tau, bahwa ternyata dia begitu.
Tanpa diduga, PKM kami termasuk dalam PKM yang didanai Dikti. Dan aku... Dibilang sedih boleh, heran boleh, senang juga boleh.
Di situlah semuanya bermula. Ketiadaan komitmen, niat, dan sebagainya itu. Berkali-kali kuhubungi, jarang dapat balasan dari ketiganya, kalaupun ada, biasanya cuma balasan kebingungan. Kalau ketemu berempat, kami cuma tatap muka 15 menit, kemudian menunda, menunda, dan terus menunda. Aku sampai capek. Dengan kesadaran pribadi kuhubungi mereka untuk konsultasi dengan dosen, tapi hari pertemuan, aku hanya berdua dengan dosen pembimbing. Tiga orang lainnya? Sudahlah, jangan ditanyakan.
Posisi di sini aku bukan ketua. Ketika aku bilang bahwa aku mau lanjut, aku mencoba memberikan gambaran, bahwa begini seharusnya kalau berniat. Tapi? Yah, begitulah, lagi2 aku cuma bisa marah2 sendiri. Kenapa? Karena yang lain nggak ada. Kalau pun ada, paling satu ekor yang mau kumpul.
Dan setelah beberapa minggu mereka sengaja tidak kuhubungi, herannya, tidak ada yang tanya, mau dibawa kemana PKM yang akan didanai ini. Kalau ketemu di kampus dan aku mengingatkan PKM, paling2 aku dapat senyuman, atau raut kesedihan di wajah mereka. Atau kadang2, jawaban: "Terserah".
Bulan2 ini, kelompok PKM lain sudah sibuk mengolah data. Mereka berkumpul di sepanjang area kampus. Dan kalau mau tau, kadang2 aku sebel sendiri lihat kelompok2 PKM itu. Pertanyaan yang sering muncul, kenapa aku nggak bisa mempertahankan kelompok PKM ku sendiri. Kenapa aku gagal ngasih semangat 3 ekor manusia itu. Kenapa kelompok PKM lain bisa berjalan bersama, sedangkan di kelompok PKM ku, aku merasa sendirian. Ada rasa marah, kesal, dan boleh kalau sedikit iri? Hmm....
Dan sekarang, semangat bikin PKM di hatiku udah tipis. Tinggal sisaan, lah. Mungkin karena udah tergilas kekecewaan dan amarah yang gagal kutakhlukkan.
Dan malam tadi, sekitar 5 jam yang lalu, C sms aku. Intinya, dia bilang, kalau kita tidak menjalankan PKM ini, kehidupannya akan terancam.
Lengkap.
Waktu aku mulai gak niat, ada seseorang yang merasa PKM harus jadi, bahkan dia siap jadi single fighter.
Okelah, aku nggak akan setega itu juga ngebiarin dia sendiri. Lagipula sejak kemarin, aku merasakan rasanya dihindari orang karena lihat aku berarti ingat tugas PKM. Aku tau apa rasanya.
Dia nggak berhak marah sama aku, seperti aku yang tidak berhak marah sama dia. Kami berdua adalah orang yang saling menyebalkan karena orang lain menyebalkan *bingung, deh*.
Yah, lihat saja nanti, seperti apa kerja kami berdua. Seberapa kuat sisa tenaga ku dan kesungguhan dia mempertahankan hak.
Selamat bekerja... Semoga Tuhan memberikan bantuan termanis Nya.
Sejak tahun lalu, ada yang mengganggu di kepalaku. PKM. Yah, PKM. Sejak dipaksa membuat proposal PKM oleh seorang dosen yang.... Uh..., tidak etis kalau ku maki-maki di sini. Sebab beliau membuat saya puas atas nilai mata kuliah ini.
Proposal PKM yang merupakan paksaan itu, anggotanya ada 4 ekor. Aku, A, B, dan C. Aku, A, dan B berada di kelas yang sama. Kami membuat proposal atas dasar keterpaksaan yang menyiksa. Sedangkan C, dia itu korban dari luar yang kami mintai bantuan secara tidak sopan, sekaligus menjadikannya ketua PKM kami. Dia jadi ketua PKM karena B, yang sudah setuju menjadi ketua malah menghilang di masa krisis.
Sudah sejak awal, PKM ini membuat aku makan hati. Kesal berkali kali, marah, kecewa, sekaligus sedih.
Pada H-1 sebagai hari terakhir pengumpulan PKM, aku memperbaiki dan menyelesaikan proposal itu hanya berdua dengan A. Hari H, sebagai hari terakhir pengumpulan proposal, aku dan A berlari2 untuk ngeprint, cari dosen pembimbing, minta tanda tangan ini itu, dan menyelesaikan urusan administrasi yang lain. Berdua. C membantu dengan dukungan sebagai pihak luar yang kami catut namanya, sedangkan B menjadi orang paling dicari oleh aku dan A. Dan entah kemana dia saat itu. Aku cukup tau, bahwa ternyata dia begitu.
Tanpa diduga, PKM kami termasuk dalam PKM yang didanai Dikti. Dan aku... Dibilang sedih boleh, heran boleh, senang juga boleh.
Di situlah semuanya bermula. Ketiadaan komitmen, niat, dan sebagainya itu. Berkali-kali kuhubungi, jarang dapat balasan dari ketiganya, kalaupun ada, biasanya cuma balasan kebingungan. Kalau ketemu berempat, kami cuma tatap muka 15 menit, kemudian menunda, menunda, dan terus menunda. Aku sampai capek. Dengan kesadaran pribadi kuhubungi mereka untuk konsultasi dengan dosen, tapi hari pertemuan, aku hanya berdua dengan dosen pembimbing. Tiga orang lainnya? Sudahlah, jangan ditanyakan.
Posisi di sini aku bukan ketua. Ketika aku bilang bahwa aku mau lanjut, aku mencoba memberikan gambaran, bahwa begini seharusnya kalau berniat. Tapi? Yah, begitulah, lagi2 aku cuma bisa marah2 sendiri. Kenapa? Karena yang lain nggak ada. Kalau pun ada, paling satu ekor yang mau kumpul.
Dan setelah beberapa minggu mereka sengaja tidak kuhubungi, herannya, tidak ada yang tanya, mau dibawa kemana PKM yang akan didanai ini. Kalau ketemu di kampus dan aku mengingatkan PKM, paling2 aku dapat senyuman, atau raut kesedihan di wajah mereka. Atau kadang2, jawaban: "Terserah".
Bulan2 ini, kelompok PKM lain sudah sibuk mengolah data. Mereka berkumpul di sepanjang area kampus. Dan kalau mau tau, kadang2 aku sebel sendiri lihat kelompok2 PKM itu. Pertanyaan yang sering muncul, kenapa aku nggak bisa mempertahankan kelompok PKM ku sendiri. Kenapa aku gagal ngasih semangat 3 ekor manusia itu. Kenapa kelompok PKM lain bisa berjalan bersama, sedangkan di kelompok PKM ku, aku merasa sendirian. Ada rasa marah, kesal, dan boleh kalau sedikit iri? Hmm....
Dan sekarang, semangat bikin PKM di hatiku udah tipis. Tinggal sisaan, lah. Mungkin karena udah tergilas kekecewaan dan amarah yang gagal kutakhlukkan.
Dan malam tadi, sekitar 5 jam yang lalu, C sms aku. Intinya, dia bilang, kalau kita tidak menjalankan PKM ini, kehidupannya akan terancam.
Lengkap.
Waktu aku mulai gak niat, ada seseorang yang merasa PKM harus jadi, bahkan dia siap jadi single fighter.
Okelah, aku nggak akan setega itu juga ngebiarin dia sendiri. Lagipula sejak kemarin, aku merasakan rasanya dihindari orang karena lihat aku berarti ingat tugas PKM. Aku tau apa rasanya.
Dia nggak berhak marah sama aku, seperti aku yang tidak berhak marah sama dia. Kami berdua adalah orang yang saling menyebalkan karena orang lain menyebalkan *bingung, deh*.
Yah, lihat saja nanti, seperti apa kerja kami berdua. Seberapa kuat sisa tenaga ku dan kesungguhan dia mempertahankan hak.
Selamat bekerja... Semoga Tuhan memberikan bantuan termanis Nya.

Komentar
Posting Komentar