Hari Terakhir Bagimu, Seseorang yang Telah Berlalu
Usianya baru 17 tahun. Dan kemarin, aku menghadiri kematiannya. Seseorang yang bahkan belum pernah kutemui, apalagi kukenal. Yang kutahu hanya berita kepergiannya. Tangis orang tuanya. Keramaian di rumahnya. Dan bendera putih yang berkibar di ujung gang.
Tanpa alasan yang jelas, malam sebelum hari terakhirnya, aku memikirkan soal kematian. Lagi. Terntang rasa takutku jika harus pergi, atau ditinggal pergi selamanya. Hampir 20 tahun hidup, tapi aku belum pernah siap. Memalukan.
Pagi berjalan seperti hari sebelumnya, ketika beranjak siang, kabar itu datang. Seseorang yang tidak kukenal menghembuskan nafas terakhir, 2 jam setelah pamit pergi ke Jogja. Siang mulai surut. 5,5 jam setelah dinyatakan tidak hidup, dia ditanam di tanah. Dan orang lain tidak akan pernah melihat wajahnya dengan nyata lagi. Singkat, dan aku tidak pernah merasa siap. Di rumah sakit, aku melihat ayahnya menutup wajah dengan kedua tangan. Ibunya terus terisak sambil memegang tissu. Berkali kali orang-orang di sekitarnya mencoba menguatkan. Berkali-kali kedua tubuh itu sempoyongan.
Perasaanku begitu kaku, tenggorokkanku tercekat, hampir ikut merintih. Tapi, aku yang tidak pernah mengenal pemuda itu hanya sedih karena harus melihat rasa sakit kedua orang tuanya. Nyatanya, kesedihan yang sesungguhnya tetap hanya milik mereka berdua. Orang yang -sangat- mengenal jenazah.
Aku mengikuti kedua orang tuaku ke rumah duka. Lagi-lagi, aku melihat kedua orang tuanya. Senyum dengan mata merah yang basah. Berusaha tegar, tapi jelas, mereka memiliki alasan untuk menangis. Pelayat di sini banyak. Aku harus berkali-kali terdorong dan mengalah, semakin tergeser ke belakang, hingga akhirnya tidak dapat melihat keranda yang mulai diusung.
Dia yang sudah ada disana, bisa mendengar tidak ya? Hubungannya dengan dunia ini sudah benar-benar putus belum, ya? Jika belum, kuatkah dia melihat orang yang sangat mencintainya belum bisa berhenti menangis? Uhh....
Hanya selentingan kecil. "Wuih, mesakke baget... Baru 17 tahun... Baru mau kuliah...." atau "Gimana kejadiannya?" atau "Duh, kok sama orang tuanya boleh sih ke Jogja bawa motor?" dan banyak ungkapan lain yang digunakan untuk mengungkapkan berbagai rasa. Tentang bagaimana dia mati, rasa kasihan, dan upaya mencari orang yang patut disalahkan.
Jika aku yang pergi nanti, entah bagaimana orang lain akan menilai kematianku. Apakah mereka mengasihani aku karena mati, atau mengasihani orang lain karena kutinggal mati. Apakah mereka akan menangis, atau malah terlawa lega karena aku pergi untuk selamanya. Entah apakah mereka datang karena aku mati, atau karena mereka ingin dilihat oleh orang tuaku sebagai orang yang peduli.Yang perlu kupikirkan sekarang adalah, sudah siapkah aku jika harus mati?
Jawaban yang masih selalu sama dariku: Belum.
Apa yang aku tunggu agar siap?
Jawaban yang masih membuatku ingin memejamkan mata: Kematian.
Tanpa alasan yang jelas, malam sebelum hari terakhirnya, aku memikirkan soal kematian. Lagi. Terntang rasa takutku jika harus pergi, atau ditinggal pergi selamanya. Hampir 20 tahun hidup, tapi aku belum pernah siap. Memalukan.
Pagi berjalan seperti hari sebelumnya, ketika beranjak siang, kabar itu datang. Seseorang yang tidak kukenal menghembuskan nafas terakhir, 2 jam setelah pamit pergi ke Jogja. Siang mulai surut. 5,5 jam setelah dinyatakan tidak hidup, dia ditanam di tanah. Dan orang lain tidak akan pernah melihat wajahnya dengan nyata lagi. Singkat, dan aku tidak pernah merasa siap. Di rumah sakit, aku melihat ayahnya menutup wajah dengan kedua tangan. Ibunya terus terisak sambil memegang tissu. Berkali kali orang-orang di sekitarnya mencoba menguatkan. Berkali-kali kedua tubuh itu sempoyongan.
Perasaanku begitu kaku, tenggorokkanku tercekat, hampir ikut merintih. Tapi, aku yang tidak pernah mengenal pemuda itu hanya sedih karena harus melihat rasa sakit kedua orang tuanya. Nyatanya, kesedihan yang sesungguhnya tetap hanya milik mereka berdua. Orang yang -sangat- mengenal jenazah.
Aku mengikuti kedua orang tuaku ke rumah duka. Lagi-lagi, aku melihat kedua orang tuanya. Senyum dengan mata merah yang basah. Berusaha tegar, tapi jelas, mereka memiliki alasan untuk menangis. Pelayat di sini banyak. Aku harus berkali-kali terdorong dan mengalah, semakin tergeser ke belakang, hingga akhirnya tidak dapat melihat keranda yang mulai diusung.
Dia yang sudah ada disana, bisa mendengar tidak ya? Hubungannya dengan dunia ini sudah benar-benar putus belum, ya? Jika belum, kuatkah dia melihat orang yang sangat mencintainya belum bisa berhenti menangis? Uhh....
Hanya selentingan kecil. "Wuih, mesakke baget... Baru 17 tahun... Baru mau kuliah...." atau "Gimana kejadiannya?" atau "Duh, kok sama orang tuanya boleh sih ke Jogja bawa motor?" dan banyak ungkapan lain yang digunakan untuk mengungkapkan berbagai rasa. Tentang bagaimana dia mati, rasa kasihan, dan upaya mencari orang yang patut disalahkan.
Jika aku yang pergi nanti, entah bagaimana orang lain akan menilai kematianku. Apakah mereka mengasihani aku karena mati, atau mengasihani orang lain karena kutinggal mati. Apakah mereka akan menangis, atau malah terlawa lega karena aku pergi untuk selamanya. Entah apakah mereka datang karena aku mati, atau karena mereka ingin dilihat oleh orang tuaku sebagai orang yang peduli.Yang perlu kupikirkan sekarang adalah, sudah siapkah aku jika harus mati?
Jawaban yang masih selalu sama dariku: Belum.
Apa yang aku tunggu agar siap?
Jawaban yang masih membuatku ingin memejamkan mata: Kematian.

Komentar
Posting Komentar