Optimislah, Sedikit Saja!
Setidaknya, ada 4 hati yang kubuat tidak jelas hari ini. 2 diantaranya butuh tissu toilet untuk meredam gejolak. 1 diantaranya butuh barang untuk dibanting. Entah apa yang mereka pikirkan. Yang kutahu, wajah mereka menyiratkan bahwa aku telah melakukan sesuatu yang tidak bisa ditarik lagi. Aku mengatakan sesuatu yang barangkali tidak menyenangkan. Maaf, ya., aku merasa bersalah.
Ini semua bisa dibuat sederhana, seandainya aku menyederhanakannya. Tinggal bilang "iya", toh semuanya belum tentu terjadi. Dan melihat yang lain, aku bukan yang terkuat. Tapi ramalan sebelumnya membuatku kembali berhenti. Tidak ingin mundur, tapi segan untuk maju. Keyakinan itu ada, tapi dia sangat sulit dibangunkan.
"Bisa mbayangkan kalo kau jadi itu, dmana kau jdi sibuk trus smua dikejar wktu psti bkalan kau jdi emosian. Skarang kutanya, kau mau nggak?" katanya. Kemudian kucari berbagai alasan, dari yang masuk akal sampai yang tidak.
Seandainya bukan aku, aku bisa beri jaminan pada diriku untuk tidak lari. Aku jarang main-main soal janji. Tapi keraguan itu selalu muncul melihat kekecewaan yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Lalu bolehkah, aku mengecewakan mereka kali ini?
Belum, belum, belum. Belum ada yang terjadi. Belum ada yang memutuskan. Belum ada yang terlambat. Tapi satu aspek lagi yang bisa kunilai dari diriku sendiri. Terlalu bnyak kekhawatiran. Terlalu banyak pertimbangan dan memikirkan kemungkinan terburuk. Bukankan dengan begitu, aku jadi tidak pantas?
Temanku yang kulukai hatinya, maaf. Seandainya saja aku ini orang yang optimis, mungkin bisa dipersingkat, disederhanakan, dan selesai dengan baik.
Aku, cuma khawatir ditinggalkan.

butuh tisu toilet?
BalasHapusjadi teringat seseorang...
saran aja ne, lebih enak pakai air :)
Haha, air buat apa, fal? Ngga bisa ngelap. *apaan sih*
BalasHapus