Catatan Kecil dari Seni Drama

Belum lama ini aku diminta untuk mengambil rapor adik laki-lakiku. Dia sedang piknik ke Bali, jadi punya kesempatan kepo-kepo nilainya. Kubanding-bandingkan dengan raporku waktu SMA dulu. Maklum, sedang kurang kerjaan. Kubolak-balik lembarnya, kemudian ketawa-ketawa sendiri. Sampai akhirnya aku menyadari, nilainya lebih tinggi dibandingkan milikku. Baik, kalau begitu, lupakan saja.
Semakin seksama memperhatikan rapor, mataku jatuh pada nilai pelajaran Seni Drama. Mata pelajaran itu tidak ada di rapor adikku, sebab dia lebih memilih Seni Musik. Mulailah aku berkelana menuju masa lalu.

"Selama tiga tahun ini, kalian akan jual tubuh. Kita akan gunakan semua bagian tubuh," itu kata-kata yang kuingat di hari pertama guru seni drama mengajar kelasku. Namanya sama dengan seorang penyanyi solo pria. Tapi ada baiknya, tidak kusebutkan di sini. Ia laki-laki setengah baya yang terkenal sangar dan pelit nilai. Label pelit nilai inilah yang kemudian kubandingkan dengan nilai-nilai seni dramaku, beserta komentar yang menyertainya.

Semester pertama, ia memberiku 75. Dengan catatan: "Melakukan pantomim dengan baik." Entah berapa anak yang ia komentari begitu. Sebab seingatku, saat ujian pantomim, aku tidak main. Aku adalah penulis naskah, sutradara, dan narator. Jadinya tidak melakukan pantomim. Entah keajaiban apa yang membuatnya merasa bahwa aku melakukan pantomim dengan baik.

Semester kedua, ia memberiku 75 (lagi). Dengan catatan: "Melakukan operet dengan baik." Kali ini, aku memang main saat ujian. Jadi pemeran pembantu yang cuma numpang lewat. Aku masih ingat, judul naskahnya adalah Nagabonar Jadi Tiga. Sebuah cerita kolosal komedi. Sampai sekarang, dari beberapa naskah yang kubuat, ini masih jadi favoritku. Sebab, aku sempat melihat guru seni dramaku itu tersenyum hanya dengan membaca naskahnya. Kejadian langka.

Semester ketiga, aku diberi 80. dengan catatan: "Melakonkan drama tradisional dengan baik." Ini adalah penilaian yang buatku paling absurd. Sebab sampai saat ini, aku nggak pernah ingat, kapan aku melakonkan drama tradisional.

Semester keempat, aku diberi 79. Dengan catatan: "Warna vokal dalam drama radio berkarakter." Aku sudah lupa judul naskah yang kubuat untuk ini. Yang kuingat, aku berperan sebagai seorang adik yang lembut dan sabar. Untuk itu, bisa dibayangkan kebohongan yang dibuat oleh suara barbar milikku. Tapi komentar yang satu ini membuatku bangga. Meski sebenarnya nggak tau, catatan ini dituliskan di rapor siapa saja selain aku.

Semester kelima, aku diberi 87. Dengan catatan: "Acting dalam drama film sangat memuaskan." Ini nilai tertinggi yang pernah kumiliki, tapi komentar beliau membuatku kembali bertanya-tanya. Acting? Dalam pembuatan film itu aku hanya penulis naskah dan sutradara. Wajahku bahkan nggak nongol sama sekali di film. Actingnya di bagian mana? Aku nggak kelihatan di layar. Beliau lihat aku acting dimana? *curiga*

Semester keenam (kelas 3 akhir), aku diberi 84. Dengan catatan: "Melakukan monolog dengan ekspresif." Tidak banyak yang menarik dari ujian monolog. Hanya kelas besar tanpa meja, lalu disuruh membawa properti sendiri. Setting naskahku adalah di dalam rumah, menjelang tidur. Jadi, di sekolah aku memakai kaos oblong dan celana rumah. Ah, nyaman sekali. Seandainya sekolah tiap hari seragamnya begini.

Secara garis besar, aku sangat menyukai mata pelajaran ini. Terlepas dari nilai dan guru yang unik, aku menikmatinya. Termasuk paksaan untuk menulis potongan naskah nyaris tiap minggu. Ia ajang yang memberiku kesempatan untuk mementaskan ide yang saat ini entah terkubur dimana. 

Komentar

Postingan Populer