Dibalik Hati Saya
Minggu lalu, saya dan adik pergi bedua nonton bioskop dengan rukun. Ini film Indonesia pertama yang saya tonton tahun ini di bioskop. Judulnya Di Balik 98.
Tentang bagaimana si film ini secara kualitas, saya nggak tau. Tapi tentang bagaimana dia membekas di kepala dan hati saya, kurang lebih saya tau. Terlepas dari keanehan-keanehan yang selalu ada di setiap film, saya suka film ini. Sutradaranya Lukman Sardi, pemainnya juga banyak yang pernah menjadi lawan mainnya si sutradara. Dan ada aja pemain yang unyu, seperti Pandji Pragiwaksono yang disorot dengan label nama Yudhoyono, dengan ekspresi wajah yang -entah kenapa- buat saya, berlebihan. Gelak tawa di bioskop juga terdengar riuh atas penampakan sosok ini. Atau kegiatan perempuan hamil dan temannya di dapur istana yang bikin saya nggak paham, kerjaan mereka sebenernya apa. Atau anak TK yang diingatkan untuk mengerjakan PR (beneran ya TK sekarang ada PR?). Beserta dialog dialog drama yang sepertinya, agak sulit diterapkan di kehidupan nyata. Yang beda adalah, saya biasanya nggak suka Boy Wiliam. Tapi di film ini, kok kesan dia beda. Arogannya luruh dikit. Yah, namanya juga aktor.
Saya nggak paham pembuatan film, tapi saya merasa film ini bukan film sederhana. Ada keberanian dan semangat yang menghanyutkan. Ada penggambaran soal penjarahan dan bagaimana Cina diburu pada masa itu. Ada kesan politik dan pengkhianatan yang mungkin saja memang terjadi. Menyatakan bahwa ini, pernah jadi bagian sejarah dari Indonesia, dari sekian banyak sejarah kelam lainnya. Itu pun melengkapi isi kepala saya yang sudah berantakan karena nganggur dan dicekoki masalah balas dendam antar lembaga yang belakangan muncul di TV.
Film Indonesia. Sebenarnya saya selalu percaya bahwa Indonesia punya film bagus. Kadang, kita aja yang terlalu sombong, menyatakan anti nonton film Indonesia, lalu mendewakan film luar. Saya pun nggak anti film luar. Semuanya saya tonton aja meski tidak memfavoritkan semua genre. Dengan referensi film saya yang sedikit ini, saya -cukup sering-, menonton film Indonesia yang zonk. Tapi nggak mau kapok. Saya selalu yakin, kita punya film bagus, kok. Pasti punya, dan akan tetap punya. Dan lagi, saya juga sering nonton film luar yang zonk dan penuh keanehan. Sama aja, nggak dewa-dewa amat meski efeknya lebih keren dan variasi mereka lebih banyak. :p
Saya selalu bangga kalau habis nonton film Indonesia. Terutama yang bagus. Sayangnya, keterbatasan membuat saya nggak bisa nonton semuanya di bioskop ._.
![]() |
| Biar gaul, foto tiketnya aja. |
Saya nggak paham pembuatan film, tapi saya merasa film ini bukan film sederhana. Ada keberanian dan semangat yang menghanyutkan. Ada penggambaran soal penjarahan dan bagaimana Cina diburu pada masa itu. Ada kesan politik dan pengkhianatan yang mungkin saja memang terjadi. Menyatakan bahwa ini, pernah jadi bagian sejarah dari Indonesia, dari sekian banyak sejarah kelam lainnya. Itu pun melengkapi isi kepala saya yang sudah berantakan karena nganggur dan dicekoki masalah balas dendam antar lembaga yang belakangan muncul di TV.
Film Indonesia. Sebenarnya saya selalu percaya bahwa Indonesia punya film bagus. Kadang, kita aja yang terlalu sombong, menyatakan anti nonton film Indonesia, lalu mendewakan film luar. Saya pun nggak anti film luar. Semuanya saya tonton aja meski tidak memfavoritkan semua genre. Dengan referensi film saya yang sedikit ini, saya -cukup sering-, menonton film Indonesia yang zonk. Tapi nggak mau kapok. Saya selalu yakin, kita punya film bagus, kok. Pasti punya, dan akan tetap punya. Dan lagi, saya juga sering nonton film luar yang zonk dan penuh keanehan. Sama aja, nggak dewa-dewa amat meski efeknya lebih keren dan variasi mereka lebih banyak. :p
Saya selalu bangga kalau habis nonton film Indonesia. Terutama yang bagus. Sayangnya, keterbatasan membuat saya nggak bisa nonton semuanya di bioskop ._.


Komentar
Posting Komentar