"Aku sambil dengerin, ya."
"Cerita, lah Ne," kata seorang teman setelah kita tidak bicara sekitar 7 menit sambil berhadapan. Matanya tak lepas dari benda di tangannya.
"Kan kamu lagi cerita sama HP," kata saya sambil tersenyum.
"Wiihh, ngambek," dia segera menjauhkan HP dari hadapannya. Percayalah, saya nggak ngambek semudah itu O:).
Lalu, kami mulai membicarakan soal penggunaan HP. Saya baru tahu bahwa ada orang yang tidak keberatan ketika didengarkan oleh lawan bicara yang sedang sibuk dengan HP. Setidaknya begitu kata dia dari pengalaman. Kalau saya coba berhadapan dengan dua atau tiga orang sekaligus, lalu mereka diminta bicara dalam waktu bersamaan dengan topik yang berbeda, kemungkinan besar saya tidak bisa fokus.
Belakangan, saya bertemu dengan beberapa orang teman dengan waktu yang berbeda. Makan, jalan-jalan, atau sekedar ngobrol. Begitulah niatnya. Tapi rasanya memang beda beda.
Suatu saat, saya duduk semeja bersama dengan dua orang teman lama. Kami jarang bertemu. Ketika sampai ke tempat makan, kami selfie sampai puluhan kali. Saya sampai bingung harus bergaya bagaimana lagi. Salah satu dari kami langsung menguploadnya ke media sosial yang saya tidak saya miliki. Lalu membahas caption apa yang bagus untuk menyertai foto bukti bahwa kami bertiga bertemu. Kami hening selama beberapa menit, kedua teman saya memandangi gadget. Tersisa saya memandangi gambar makanan di dinding sambil bengong. Saya yang tidak mau kalah akhirnya saya ikutan ambil HP dan buka hal-hal nggak penting. Setelah itu, kami makan, bicara sebentar dan pulang. Rasanya seperti habis building rapport, terus pulang.
Di saat yang lain, saya bertemu dengan salah seorang teman yang juga lama tidak ditemui. Kami selfie, lalu dia mengedit fotonya untuk diupload. Saya bengong menunggu, akhirnya ikut membuka HP untuk membalas beberapa pesan. Tak lama, makanan pesanan kami datang. Saya makan sendiri karena dia masih sibuk. Beberapa kali saya mengajaknya bicara. Ia menjawab tanpa melepaskan matanya dari foto editan yang akan diupload. Lama, saya hampir selesai makan. Saya sempat merajuk, mau sampai kapan kita sunyi karena saya harus menunggu dia mengupload. Malam itu, setelah foto diupload, untung saja kami bisa bicara banyak dan serius, serta berati buat saya. Meski karena pulang terlambat tanpa izin, kosan saya sudah dikunci ketika saya pulang. Kenapa saya tidak sms izin? Karena saya tidak mau memotong cerita serius kami dengan buka HP. Tapi lain kali saya akan lebih asertif, karena berakibat dikunciin di luar.
Masih ada beberapa pengalaman lagi, tapi kalau diceritakan, akan makin panjang. Yasudah lah itu saja.
Saya jadi kepikiran tentang HP dalam acara kumpul dengan teman. Saya bertanya pada seorang teman dekat (sebut saja Mega), apakah saya begitu sangat sering mengabaikan lawan bicara karena HP. Dia bilang, kadang-kadang begitu meski masih dalam taraf normal. Artinya, saya juga sebenarnya salah satu pelaku nyuekin lawan bicara karena HP. Seingat saya, jika saya memang sedang bertemu dengan seseorang, aktivitas HP hanya akan membalas pesan yang masuk, atau melakukan sesuatu yang saya anggap penting, misalnya searching sesuatu untuk memberi info pada lawan bicara. Saya berusaha tidak lama-lama, atau memberitahu lawan bicara bahwa saya akan balas pesan dulu, atau mengisyaratkan bahwa ini penting. Itu yang saya ingat. Entah kalau saya lupa dan membuat orang lain kesal.
Sejauh ini pun sebenarnya saya merasa tidak keberatan, ketika seorang teman meminta saya untuk berhenti cerita sebentar karena ia akan membalas pesan. Setelah selesai membalas, dia kembali mendengarkan. Atau kalau cerita saya tidak begitu serius, saya akan tetap bicara meski dia sudah mengatakan akan membuka HPnya sejenak. Saya juga tidak keberatan ketika bengong sebentar karena si lawan bicara ijin harus mengurus sesuatu yang penting via HP. Mungkin saya lebih rela dimadu dengan makanan atau alat olahraga seperti barbel, daripada HP.
Yang terkadang membuat saya kecewa adalah, ketika socmed dikabari bahwa kami sedang bertemu, sementara saya bengong di depannya. Sementara saya merasa bahwa waktu pertemuan ini tidak benar-benar berkualitas. Atau ketika si lawan bicara yang niatnya bertemu dengan saya, malah intens berbalas pesan di grup, atau scroll timeline sambil senyum senyum sendiri. Hmm, mungkin saya memang kurang menarik dibandingkan socmed dan hal-hal lain di HP. Lalu membiarkan saya yang ingin bicara padanya justru mencari kesibukan lain. Tentu lain cerita jika lawan bicara niat awalnya bukan bertemu saya, atau pertemuan dalam kelompok besar.
Ini seharusnya jadi pengingat buat saya juga untuk menjaga aktivitas gadget bila sedang berhadapan dengan lawan bicara. Terkadang kelakuan saya itu akan terasa menyebalkan bagi orang lain. Misalnya saja, teman saya yang namanya Mega tadi.
"Aku sambil dengerin, ya," seseorang mungkin akan berbicara begitu padamu sambil sibuk dengan gadgetnya. Rasanya, belakangan ini makin sering terdengar.
Lantas saya ingat lagi pada pertemuan dengan seorang teman dekat saya sejak SMP, beberapa hari lalu. Kami yang jarang sekali bertemu, bicara di atas motor sambil menghabiskan bensin. Berkunjung ke rumah dia, ke rumah saya, lalu makan di rumah makan. Waktu pertemuan sekitar 4 jam dan saya belum puas. Tapi yang saya ingat, kami banyak bercerita tanpa banyak aktivitas HP. Kami lupa selfie atau update di socmed, meski niat awalnya begitu. Dan saya merasa, orang ini benar-benar ingin bicara pada saya. Mungkin faktor karena jarang ketemu ya.
Ne, tulisanmu kok ngalor ngidul? Yo wes ben, kan blog pribadi. :p
"Kan kamu lagi cerita sama HP," kata saya sambil tersenyum.
"Wiihh, ngambek," dia segera menjauhkan HP dari hadapannya. Percayalah, saya nggak ngambek semudah itu O:).
Lalu, kami mulai membicarakan soal penggunaan HP. Saya baru tahu bahwa ada orang yang tidak keberatan ketika didengarkan oleh lawan bicara yang sedang sibuk dengan HP. Setidaknya begitu kata dia dari pengalaman. Kalau saya coba berhadapan dengan dua atau tiga orang sekaligus, lalu mereka diminta bicara dalam waktu bersamaan dengan topik yang berbeda, kemungkinan besar saya tidak bisa fokus.
Belakangan, saya bertemu dengan beberapa orang teman dengan waktu yang berbeda. Makan, jalan-jalan, atau sekedar ngobrol. Begitulah niatnya. Tapi rasanya memang beda beda.
Suatu saat, saya duduk semeja bersama dengan dua orang teman lama. Kami jarang bertemu. Ketika sampai ke tempat makan, kami selfie sampai puluhan kali. Saya sampai bingung harus bergaya bagaimana lagi. Salah satu dari kami langsung menguploadnya ke media sosial yang saya tidak saya miliki. Lalu membahas caption apa yang bagus untuk menyertai foto bukti bahwa kami bertiga bertemu. Kami hening selama beberapa menit, kedua teman saya memandangi gadget. Tersisa saya memandangi gambar makanan di dinding sambil bengong. Saya yang tidak mau kalah akhirnya saya ikutan ambil HP dan buka hal-hal nggak penting. Setelah itu, kami makan, bicara sebentar dan pulang. Rasanya seperti habis building rapport, terus pulang.
Di saat yang lain, saya bertemu dengan salah seorang teman yang juga lama tidak ditemui. Kami selfie, lalu dia mengedit fotonya untuk diupload. Saya bengong menunggu, akhirnya ikut membuka HP untuk membalas beberapa pesan. Tak lama, makanan pesanan kami datang. Saya makan sendiri karena dia masih sibuk. Beberapa kali saya mengajaknya bicara. Ia menjawab tanpa melepaskan matanya dari foto editan yang akan diupload. Lama, saya hampir selesai makan. Saya sempat merajuk, mau sampai kapan kita sunyi karena saya harus menunggu dia mengupload. Malam itu, setelah foto diupload, untung saja kami bisa bicara banyak dan serius, serta berati buat saya. Meski karena pulang terlambat tanpa izin, kosan saya sudah dikunci ketika saya pulang. Kenapa saya tidak sms izin? Karena saya tidak mau memotong cerita serius kami dengan buka HP. Tapi lain kali saya akan lebih asertif, karena berakibat dikunciin di luar.
Masih ada beberapa pengalaman lagi, tapi kalau diceritakan, akan makin panjang. Yasudah lah itu saja.
Saya jadi kepikiran tentang HP dalam acara kumpul dengan teman. Saya bertanya pada seorang teman dekat (sebut saja Mega), apakah saya begitu sangat sering mengabaikan lawan bicara karena HP. Dia bilang, kadang-kadang begitu meski masih dalam taraf normal. Artinya, saya juga sebenarnya salah satu pelaku nyuekin lawan bicara karena HP. Seingat saya, jika saya memang sedang bertemu dengan seseorang, aktivitas HP hanya akan membalas pesan yang masuk, atau melakukan sesuatu yang saya anggap penting, misalnya searching sesuatu untuk memberi info pada lawan bicara. Saya berusaha tidak lama-lama, atau memberitahu lawan bicara bahwa saya akan balas pesan dulu, atau mengisyaratkan bahwa ini penting. Itu yang saya ingat. Entah kalau saya lupa dan membuat orang lain kesal.
Sejauh ini pun sebenarnya saya merasa tidak keberatan, ketika seorang teman meminta saya untuk berhenti cerita sebentar karena ia akan membalas pesan. Setelah selesai membalas, dia kembali mendengarkan. Atau kalau cerita saya tidak begitu serius, saya akan tetap bicara meski dia sudah mengatakan akan membuka HPnya sejenak. Saya juga tidak keberatan ketika bengong sebentar karena si lawan bicara ijin harus mengurus sesuatu yang penting via HP. Mungkin saya lebih rela dimadu dengan makanan atau alat olahraga seperti barbel, daripada HP.
Yang terkadang membuat saya kecewa adalah, ketika socmed dikabari bahwa kami sedang bertemu, sementara saya bengong di depannya. Sementara saya merasa bahwa waktu pertemuan ini tidak benar-benar berkualitas. Atau ketika si lawan bicara yang niatnya bertemu dengan saya, malah intens berbalas pesan di grup, atau scroll timeline sambil senyum senyum sendiri. Hmm, mungkin saya memang kurang menarik dibandingkan socmed dan hal-hal lain di HP. Lalu membiarkan saya yang ingin bicara padanya justru mencari kesibukan lain. Tentu lain cerita jika lawan bicara niat awalnya bukan bertemu saya, atau pertemuan dalam kelompok besar.
Ini seharusnya jadi pengingat buat saya juga untuk menjaga aktivitas gadget bila sedang berhadapan dengan lawan bicara. Terkadang kelakuan saya itu akan terasa menyebalkan bagi orang lain. Misalnya saja, teman saya yang namanya Mega tadi.
"Aku sambil dengerin, ya," seseorang mungkin akan berbicara begitu padamu sambil sibuk dengan gadgetnya. Rasanya, belakangan ini makin sering terdengar.
Lantas saya ingat lagi pada pertemuan dengan seorang teman dekat saya sejak SMP, beberapa hari lalu. Kami yang jarang sekali bertemu, bicara di atas motor sambil menghabiskan bensin. Berkunjung ke rumah dia, ke rumah saya, lalu makan di rumah makan. Waktu pertemuan sekitar 4 jam dan saya belum puas. Tapi yang saya ingat, kami banyak bercerita tanpa banyak aktivitas HP. Kami lupa selfie atau update di socmed, meski niat awalnya begitu. Dan saya merasa, orang ini benar-benar ingin bicara pada saya. Mungkin faktor karena jarang ketemu ya.
Ne, tulisanmu kok ngalor ngidul? Yo wes ben, kan blog pribadi. :p

Cerita yang bagus Ane, kenapa kamu ngerasa ini ngalor ngidul? hehehe
BalasHapusBaiklah, aku juga punya pandangan sendiri hape.
Kebetulan hapeku nggak terlalu canggih, karena kebanyakan orang pakai android dan aku pakai windows phone. Anti mainstream sih, tapi ya itu jadi nggak terlalu ngerti soal aplikasi yang mereka bilang asyik.
Tapi di satu sisi aku merasa, terlalu asyik dengan hape di saat pertemuan dengan orang lain (entah urusan apa dan sepenting apa), sibuk dengan hape kadang agak menjengkelkan. Hehehe.
Sebagai seseorang yang lagi bicara, aku bakal ngerasa kurang dihargai keberadaannya kalau lawan bicaraku sibuk sama hapenya. Positive thinking aja kalau ada sesuatu yang beneran darurat buat dijawab, mungkin istrinya lagi mau melahirkan, ibunya habis masak enak banget dan nyuruh dia pulang, ada tamu penting, ada deadline, dsb.
Tapi sebetulnya, dari survei kecil-kecilan tentang pegang hape, kebanyakan mereka melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa ditunda. Ya semacam aktivitas yang buat asyik-asyik aja...
Kadang aku sendiri juga mainan hape, tapi kuusahakan seminimal mungkin. Karena aku bermain hape hanya saat aku ngerasa kikuk di tempat itu :)