Terhubung tapi Tidak Bergantung
Terbuka pada orang lain mengenai perasaan kesepian bisa menjadi tantangan yang sangat besar. Resiko untuk ditolak dan diabaikan bukanlah hal yang mudah untuk dibayangkan, apalagi juga diterima. Kita bisa jadi akan sangat sensitif dengan apapun jawabannya. Dalam relasi, kita yang memiliki harapan tertentu, sementara orang lain yang juga memiliki kepentingan dan kebutuhannya sendiri. Dan mereka memang, tidak memiliki kewajiban untuk menjawab ekspektasi kita.
Ekspektasi.
Pengharapan yang kita inginkan jadi kenyataan. Ekspektasi mengenai bagaimana
kita terhubung dengan lingkungan dan orang lain bisa menjadi awal mula adanya
kesepian yang menyiksa. Tidak jarang, itupun yang membuat kesepian menjadi
makin terasa nyata. Ekspektasi mengenai bagaimana orang lain “seharusnya”
terkoneksi dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita terhadap relasi sosial.
Bagaimana “seharusnya” kita diperlakukan dan memperlakukan orang lain agar merasa
penuh dan berarti.
Sayangnya
rumus “seharusnya” justru bisa menjadi masalah baru. Ketika berekspektasi, kita
akan memiliki gambaran ideal mengenai apa yang “seharusnya” terjadi. Kita
berupaya menggenggam erat semua aspek yang berpengaruh dalam ekspektasi kita. Seharusnya
dia hadir saat ini. Seharusnya dia lebih menghargaiku. Seharusnya aku punya
relasi sosial yang lebih baik. Seharusnya aku tidak merasa tertinggal seperti
ini. Dan seharusnya-seharusnya lain yang menjadi harapan tidak terwujud kita.
Hanya
saja, tidak semua faktor dalam ekspektasi itu dapat kita kontrol dan berada di
dalam kuasa kita. Semakin kita berupaya mengontrolnya, justru gap antara apa
yang kita rasa “harusnya” terjadi dengan apa yang nyatanya kita alami makin
lebar. Selama kita masih sangat berharap pada bagaimana “seharusnya” orang lain
bersikap, berpikir, dan berperilaku, kita justru bisa terjebak pada ekspektasi
yang makin menyakiti diri kita.
Tentu
saja, mengelola ekspektasi dan melepaskan apa yang di luar kuasa kita, bukan
hal yang sederhana. Memiliki ekspektasi adalah hal yang manusiawi. Tapi
memahami bahwa ekspektasi kita tidak selalu harus jadi kenyataan, tidak kalah
penting. Belajar untuk fokus pada hal-hal yang dapat kita lakukan dan kita
miliki saja daripada pada apa yang tidak terjadi dan di luar kuasa kita.
Bias dalam Kesepian
Salah
satu penelitian yang dilakukan, mengatakan bahwa orang dengan perasaan kesepian
memiliki motivasi untuk menolong atau terhubung dengan orang lain. Namun disisi
lain, orang yang kesepian juga memiliki lebih banyak pikiran negatif terkait
dengan bagaimana orang lain bisa dipercaya dan bersikap adil.1
Dengan kata lain, seseorang yang mengalami kesepian lebih rentan untuk memiliki
bias pemikiran bahwa orang lain tidak akan bersikap baik. Misalnya, ketika
ingin mengajak bicara orang lain, ia cenderung memiliki prasangka bahwa orang
lain tidak akan meresponnya dengan terbuka.
Walaupun
sebenarnya, ini masih berupa prasangka, yang belum tentu akan terjadi. Namun
hal ini sudah cukup membuat seseorang menahan diri untuk mencoba terkoneksi
dengan orang lain. Bias pemikiran inilah yang menimbulkan sikap dan perilaku
negatif seperti upaya untuk menghindar, frustasi, serta demotivasi terhadap
kontak sosial yang lebih luas. Orang yang mengalami kesepian seringkali
memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk terlibat dalam kegiatan prososial
(tindakan menolong orang lain) dan lebih cenderung menarik diri secara sosial 1.
Mengelola ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap bagaimana orang lain akan bersikap merupakan hal yang perlu diperhitungkan dalam mengelola perasaan kesepian. Pahami bahwa kita tidak bisa memaksa orang lain bersikap seperti apa yang kita inginkan. Namun selain itu, berhati-hatilah dengan prasangka negatif kita terhadap orang lain karena justru membuat kita makin kehilangan kesempatan untuk terkoneksi dan merasa makin kesepian.
Terhubung yang Membantu
Dalam
upaya-upaya mengatasi kesepian, membangun keterhubungan menjadi salah satu hal
yang menjadi alternatif saran utama. Keterhubungan yang dimaksud bisa beragam,
bisa terhubung dengan orang, kegiatan, rutinitas, atau benda. Misalnya dengan
menemui orang baru, menjalin relasi kembali dengan orang-orang lama yang pernah
menjadi bagian dari hidup kita, komunitas baru (seperti komunitas hobby,
support grup), hobby baru (bertanam, menggambar, menulis), memiliki peliharaan,
atau aktivitas baru (ikut program volunteer misalnya)2,3.
Kesepian
tidak hanya mengenai berharap menerima dukungan, tapi juga memberikan dukungan
dan saling membantu2. Terkoneksi. Terhubung. Tidak hanya dibantu,
tapi juga bermanfaat bagi orang lain. Tidak hanya ditemani, tetapi juga
merasakan keberartian karena diri kita bisa hadir untuk orang lain. Perasaan
terkoneksi dan terhubung merupakan hal penting yang dapat membuat seseorang
tidak merasa kesepian walaupun lebih banyak menghabiskan waktu sendirian.
Dalam
membangun koneksi, beri diri kita kesempatan juga untuk tidak bergantung hanya
pada satu relasi atau satu pola pikir yang negatif. Bahwa dia adalah
satu-satunya sehingga harus bisa memenuhi harapan kita. Bahwa orang lain
seharusnya bisa lebih bisa memahami dan membantu kita, bahwa orang lain mungkin
saja sedang berusaha meninggalkan kita ketika dia tidak memenuhi ekspektasi,
bahwa orang lain tidak akan peduli, bahwa kita tertinggal dan tidak pantas.
Setiap
orang memiliki kapasitas, minat, kebutuhan yang berbeda-beda. Ada orang yang
bisa terkoneksi denganmu hanya dengan mendengarkan musik berdua dengan selera
musik yang sama. Tapi di hari-hari lainnya, ada juga orang yang bisa terkoneksi
denganmu karena sama-sama ikut klub sepeda. Ada juga yang dapat terkoneksi
denganmu karena mengerjakan project-project bersama di kantor. Relasi-relasi
itu pun berharga dan boleh kita nikmati. Walaupun mungkin partner project yang
bisa kita ajak tukar pikiran di kantor tidak bisa diajak untuk bersepeda
bersama, tapi relasi itu tetap berharga. Dan realistislah terhadap harapan kita
terhadap orang tersebut.
Tidak
harus juga dengan orang yang kita kenal dengan lama. Keterhubungan juga dapat
dibangun dengan memperluas perhatian kita pada sekitar. Sekedar tersenyum atau
menyapa penjual minuman, membantu menunjukkan arah toilet pada orang lain, atau
menikmati indahnya tanaman di sepanjang perjalanan ke sekolah.
Selain
manusia, keterhubungan juga bisa kita bangun dengan hal lain, perluas
perhatianmu pada koneksi berharga yang ada di sekitarmu. Misalnya dengan hewan
peliharaan yang kita miliki, terhubung dengan ilmu baru atau skill baru yang
kita latihkan, bahkan mungkin, terhubung dengan Tuhan atau pencipta sesuai
dengan kepercayaan yang dimiliki2. Nikmatilah hubungan-hubungan itu.
Fokuslah pada hal yang bisa kita bangun atau kita miliki. Izinkan dirimu untuk
memperluas kemungkinan koneksi yang bisa dimiliki.
Relasimu
berharga walaupun hanya relasi kecil yang memenuhi sebagian kecil dari aspek
hidupmu. Namun adanya izin untuk memiliki dan menikmatinya dapat membantu kita
memiliki keterhubungan yang lebih luas dan beragam.
1 Belluci,
G. (2020). Positive Attitudes and Negative Expectations in Lonely Individuals. Scientific
Report, 10:18595
2 Rokach,
A. (2018). Effectife Coping with Loneliness: A Review. Open Journal Depression,
7, 61-72
3 Cacioppo,
S, dkk. (2015). Loneliness: Clinical Import and Interventions. Perspect Psychol
Sci, 10 (2): 238-249

Komentar
Posting Komentar