Pola Pikir Divergen yang Berperan dalam Kreativitas
Sejak masih sekolah, kita tentu tidak asing dengan soal pilihan ganda. Kita diminta memilih satu jawaban benar dari beberapa pilihan yang disediakan. Bedakan dengan bentuk soal lain seperti dalam pelajaran bahasa Indonesia yang biasa meminta kita untuk menulis atau membuat karangan bebas. Pernahkan Anda mencari tahu bagaimana cara Anda berpikir ketika mengerjakan kedua perintah tersebut?
Dalam mengerjakan
soal pilihan ganda, kita fokus pada jawaban benar atau salah, dengan merunut pengetahuan yang kita miliki menuju satu jawaban. Kondisi demikian melibatkan pola convergent thinking yaitu melihat
masalah dengan cara tunggal untuk menemukan gagasan atau solusi yang paling “benar” (Runco &
Acar, 2012). Cara berpikir ini kerap dibutuhkan dalam perumusan dan pengambilan keputusan yang bersifat pasti, runtut, dan
seragam. Pola pikir ini dapat membantu dalam situasi yang memiliki struktur yang
jelas, agar permasalahan dapat diselesaikan dengan waktu yang lebih efisien.
Lain halnya dengan soal mengarang bebas. Perintah yang
diberikan membuat kita harus berpikir lebih luas dari sekedar jawaban benar-salah. Kita
akan mempertimbangkan beberapa hal seperti memilih cerita yang paling menarik lalu menuliskannya agar dipahami dan berkesan dari sudut pandang orang lain.
Pertimbangan dan jawaban yang muncul dalam benak kita tentu saja menjadi luas dan tidak terbatas. Hal ini dikenal
dengan divergent thinking, jenis pemikiran yang menghasilkan berbagai macam alternatif jawaban bahkan sangat mungkin untuk mengembangkan ide yang baru, original,
dan unik (Runco & Acar, 2012).
Orang yang terbiasa
berpikir dengan cara divergen ternyata memiliki potensi yang lebih besar untuk
menjadi kreatif. Meski demikian, cara berpikir divergen berbeda dengan kreatif
dan kecerdasan. Oleh sebab itu, tes kecerdasan bukan alat yang tepat untuk
mengukur cara pikir divergen (Runco & Acar, 2012). Originalitas ide lah yang menjadi pusat
kreativitas dan cara pikir
divergen menjadi
pemandu untuk menciptakan ide baru tersebut (Runco & Acar, 2012). Cara berpikir divergen
membuat seseorang berpikir dengan sudut pandang yang luas daripada konvergen,
sehingga lebih bisa memberi alternatif ide yang unik. Ide dapat berguna untuk
berbagai aspek dalam hidup, dan menurut penelitian, cara berpikir divergen dapat
berguna dalam memahami kualitas ide dan proses yang terlibat (Runco & Acar,
2012).
Berdasarkan
penelitian, cara konvergen dan divergen ini ternyata berhubungan dengan suasana
hati seseorang. Penelitian yang dilakukan Chermani dan Hommel (2012) menemukan
bahwa cara berpikir divergen membuat suasana hati seseorang membaik.
Sebaliknya, mempertahankan
cara berpikir konvergen justru dapat membuat suasana hati memburuk.
Chermani dan Hommel
(2012) menerangkan, hal ini disebabkan
perbedaan karakteristik tugas yang membuat konsekuensi emosional seseorang
dalam menghadapi tugas
menjadi berbeda. Konvergen
seringkali dianggap lebih sulit dan lebih memberikan tekanan daripada divergen.
Ketika berpikir secara konvergen, kita harus menemukan jawaban benar dan membatasi
pikiran yang mengarah pada satu
jawaban benar saja (Chermani dan Hommel, 2012). Kondisi inilah yang dapat mendorong suasana hati
seseorang menjadi negatif.
Dengan demikian cara berpikir dan
suasana hati
memiliki hubungan timbal balik yang penting jika kita ingin menjadi lebih kreatif. Kreativitas tidak hanya
ditentukan oleh pola pikir divergen, tetapi melatih pola pikir divergen dapat
membantu menciptakan hal yang kreatif. Di samping itu, akan dibutuhkan
penilaian terhadap ide kreatif agar dapat memastikan bahwa ide tersebut dapat
diterapkan dan minim resiko di dunia nyata. Silahkan berlatih berpikir secara divergen dalam menciptakan ide dan membuat inovasi menarik diiringi dengan suasana hati yang lebih
baik. Selamat mencoba!
Referensi:
Chermahini, S. A., & Hommel, B.
(2012). Creative Mood Swings: Divergent and Convergent Thinking Affect Mood
in Opposite Ways. Psychological Research, 76:634-640
Runco, M. A. (2012). Divergent
Thinking as an Indicator of Creative Potential . Creativity Research
Journal, 24(1), 1-10

Komentar
Posting Komentar