11 & 12 Januari 2009, Memori Singkat Berbuntut Panjang
Nggak kerasa, hari ini tepat 3 tahun beliau nggak ada, Nenekku. Dan kecelakaan yang rasanya membuatku sadar bahwa kematian itu berada sangat dekat.
Aku masih inget, 11 Januari 2009 adalah hari minggu. Kami sekeluarga baru makan malam waktu ditelpon bahwa beliau masuk rumah sakit. 10 menit kemudian, telepon berbunyi lagi untuk mengabarkan bahwa beliau sudah meninggal. Ibuku langsung nangis. Dia berniat berangkat ke Solo sendirian Senin pagi. Tapi ayahku mau mengantar malam itu juga dan berangkat sekeluarga.
Malam itu, jam 2 (sudah pagi, ya), kami berangkat. Aku tidur sepanjang perjalanan. Sampai tiba-tiba terdengar bunyi hantaman keras yang diikuti olengnya mobil. Aku langsung melek, tapi kesadaran rasanya baru melekat separuhnya. Aku berpegang erat pada jok mobil depanku sementara mobil masih berjalan dengan 3 roda tersisa. Sudah pasti, aku teriak minta ampun sama Tuhan (kalo masa2 begini, inget). Akhirnya mobil berhenti dengan nyusruk pekarangan rumah warga. Tepat jam 5 pagi. Ternyata tabrakan antar mobil. Jangan tanya kronologinya, karena aku sendiri nggak tau. Yang aku tau, sisi kanan bagian depan mobilku hancur, rodanya lepas. Dan mobil lawan kami mengenaskan sekali. Seluruh sisi kanan mobil sedan itu ringsek, hampir melengkung ke dalam separuh bagian. Pintunya aja sampai lepas. Nampaknya jip ku lebih kuat. Prosesnya gimana, aku nggak tau. Tapi yang paling aku syukuri, kami baik-baik saja. Bahkan mobil lawanku sudah setengah hancur begitu, penumpangnya sehat semua, cuma seorang gadis sebayaku ada luka di kaki (kalo nggak salah jempol), tapi itupun nggak apa. Urusan kecelakaan tentu panjang, sampai ada polisi segala. Tapi proses penyelesaiannya gimana, semua diambil alih ayahku.
Ibuku yang paling shok, jelas, lah. Dan entah kenapa, pagi itu aku kelihatan cool sekali. Santai kayak nggak ada apa-apa. Beruntung ada beberapa teman ayahku yang membantu mulai dari mengevakuasi aku, ibu dan adikku, sampai ikut membantu urusan kepolisian. Semoga Allah selalu melindungi mereka. Amin.
Singkat cerita, pemakaman sudah selesai dijalankan. Dan aku berkunjung ke rumah peninggalan nenekku. Banyak hal yang membuat aku kemudian sadar bahwa betapa aku disayanginya. Setelah di recall, aku mendapatkan banyak memori bersama beliau. Dulu, nenekku buka toko alat tulis dan fotocopi. Waktu belum sekolah, aku sering mempermainkan barang dagangannya. Kalau diinget, jadi malu sendiri. Beliau tidak pernah marah, hanya memandangiku penuh senyum. Setiap aku berkunjung ke rumahnya, selalu ada persediaan hal-hal yang kusuka. Beliau selalu mempersiapkan rumahnya untuk kami menginap dan memasakkan makanan2 yang kusuka. Jika aku pernah bilang "suka", beliau pasti berusaha mempersiapkannya di kunjunganku yang akan datang. Beliau yang mengantarku ke tempat yang ingin kukunjungi. Beliau yang menggandeng tanganku di perjalanan yang panjang. Terlebih ketika aku menemukan kalender harian tahun 2008, dimana ia melingkari satu tanggal, dan menuliskan "Inon pulang". Padahal kalender harian disobek setiap harinya. Tapi dia menyimpan satu lembar, tanggal dimana aku datang mengunjunginya. Betapa ia sangat menunggu kedatanganku untuk kemudian disambutnya. Dan yang aku sesali, dulu aku tidak terlalu memperhatikannya. Banyak kenangan lain yang membuatku sesak jika mengingatnya. Seandainya masih bisa, aku ingin bilang bahwa aku juga menyayanginya. Seperti kalimat sayang yang dulu sering ia katakan padaku. Setelah kehilangan, baru terasa.
Sayang, kini beliau hanya bisa melihatnya dari tempat yang jauh disana. Sudah 3 tahun berlalu, semoga Tuhan memberinya tempat yang penuh dengan kedamaian, Amin.
Aku masih inget, 11 Januari 2009 adalah hari minggu. Kami sekeluarga baru makan malam waktu ditelpon bahwa beliau masuk rumah sakit. 10 menit kemudian, telepon berbunyi lagi untuk mengabarkan bahwa beliau sudah meninggal. Ibuku langsung nangis. Dia berniat berangkat ke Solo sendirian Senin pagi. Tapi ayahku mau mengantar malam itu juga dan berangkat sekeluarga.
Malam itu, jam 2 (sudah pagi, ya), kami berangkat. Aku tidur sepanjang perjalanan. Sampai tiba-tiba terdengar bunyi hantaman keras yang diikuti olengnya mobil. Aku langsung melek, tapi kesadaran rasanya baru melekat separuhnya. Aku berpegang erat pada jok mobil depanku sementara mobil masih berjalan dengan 3 roda tersisa. Sudah pasti, aku teriak minta ampun sama Tuhan (kalo masa2 begini, inget). Akhirnya mobil berhenti dengan nyusruk pekarangan rumah warga. Tepat jam 5 pagi. Ternyata tabrakan antar mobil. Jangan tanya kronologinya, karena aku sendiri nggak tau. Yang aku tau, sisi kanan bagian depan mobilku hancur, rodanya lepas. Dan mobil lawan kami mengenaskan sekali. Seluruh sisi kanan mobil sedan itu ringsek, hampir melengkung ke dalam separuh bagian. Pintunya aja sampai lepas. Nampaknya jip ku lebih kuat. Prosesnya gimana, aku nggak tau. Tapi yang paling aku syukuri, kami baik-baik saja. Bahkan mobil lawanku sudah setengah hancur begitu, penumpangnya sehat semua, cuma seorang gadis sebayaku ada luka di kaki (kalo nggak salah jempol), tapi itupun nggak apa. Urusan kecelakaan tentu panjang, sampai ada polisi segala. Tapi proses penyelesaiannya gimana, semua diambil alih ayahku.
Ibuku yang paling shok, jelas, lah. Dan entah kenapa, pagi itu aku kelihatan cool sekali. Santai kayak nggak ada apa-apa. Beruntung ada beberapa teman ayahku yang membantu mulai dari mengevakuasi aku, ibu dan adikku, sampai ikut membantu urusan kepolisian. Semoga Allah selalu melindungi mereka. Amin.
Singkat cerita, pemakaman sudah selesai dijalankan. Dan aku berkunjung ke rumah peninggalan nenekku. Banyak hal yang membuat aku kemudian sadar bahwa betapa aku disayanginya. Setelah di recall, aku mendapatkan banyak memori bersama beliau. Dulu, nenekku buka toko alat tulis dan fotocopi. Waktu belum sekolah, aku sering mempermainkan barang dagangannya. Kalau diinget, jadi malu sendiri. Beliau tidak pernah marah, hanya memandangiku penuh senyum. Setiap aku berkunjung ke rumahnya, selalu ada persediaan hal-hal yang kusuka. Beliau selalu mempersiapkan rumahnya untuk kami menginap dan memasakkan makanan2 yang kusuka. Jika aku pernah bilang "suka", beliau pasti berusaha mempersiapkannya di kunjunganku yang akan datang. Beliau yang mengantarku ke tempat yang ingin kukunjungi. Beliau yang menggandeng tanganku di perjalanan yang panjang. Terlebih ketika aku menemukan kalender harian tahun 2008, dimana ia melingkari satu tanggal, dan menuliskan "Inon pulang". Padahal kalender harian disobek setiap harinya. Tapi dia menyimpan satu lembar, tanggal dimana aku datang mengunjunginya. Betapa ia sangat menunggu kedatanganku untuk kemudian disambutnya. Dan yang aku sesali, dulu aku tidak terlalu memperhatikannya. Banyak kenangan lain yang membuatku sesak jika mengingatnya. Seandainya masih bisa, aku ingin bilang bahwa aku juga menyayanginya. Seperti kalimat sayang yang dulu sering ia katakan padaku. Setelah kehilangan, baru terasa.
Sayang, kini beliau hanya bisa melihatnya dari tempat yang jauh disana. Sudah 3 tahun berlalu, semoga Tuhan memberinya tempat yang penuh dengan kedamaian, Amin.

Komentar
Posting Komentar