Gangguan Tengah Malam

Sudah lewat tengah malam waktu aku mulai menikmati gerimis di teras atas. Jalan raya di ujung gang tidak lagi bersuara. Senyap, tapi tetap menanti kehidupan. Di sini, kota dimana ia punya banyak cerita tentang kehidupanku. Di mana uraian tentang perjalanan tergambar, meskipun sekarang sudah mulai memudar.

Tinggal kepalaku yang bersuara. Dipenuhi dengan frasa-frasa yang ingin kusampaikan pada banyak orang. Tentang perasaan yang membuatku kembali berpikir, sudah sampai di mana aku. Tentang bias masa lalu yang tetap mengganggu, dan tentang bagaimana aku melanjutkan hidup. Kadang tersirat bahwa ini melelahkan, tapi inilah yang ditakdirkan untuk dijalani. Semangat baru yang selalu berhasil membuatku kembali tersenyum.

Belakangan, aku mendengar cukup banyak hal yang berhasil membuatku terganggu (lagi). Tentang perasaan, dan apa maknanya bagi orang lain. Sebuah kepastian yang mungkin akan menenangkan hati, suatu saat nanti. Yah, begitulah. Selalu menjadi stimulus yang tidak jelas arahnya. Selalu menjadi harapan, bahwa takdir di kehidupan selanjutnya lebih manis daripada yang telah terlewati.

Tuhan, dengan campur tangan Mu, aku berharap bisa jadi lebih baik. Atau setidaknya, bisa melewati takdirmu dengan kekuatan penuh. Amin.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer