Kuda Putih di Kolam Bola

"Mah, mau naik itu," aku menunjuk seekor kuda putih yang dinaiki seorang anak kecil. Ibuku tersenyum. Dan aku sangat tahu, arti senyum itu adalah tidak. Mengingat usiaku kini sudah menginjak kepala dua.
Penampakan kuda putih yang dimaksud
Kami berkeliling lagi, melintasi keramik putih yang berjeda sempit. Beraneka wahana menyambut di sisi kanan dan kiri. Sementara anak-anak kecil berseliweran didampingi orang tua mereka. Aku juga didampingi, menggandeng erat lengan ibuku sambil terus bermanja unyu (mumpung di tempat seperti ini resiko bertemu teman kecil ). Kami duduk di sebuah bangku kayu panjang sambil melihat koran hari ini. Aku melongok ke belakang. Sebuah taman bermain anak-anak terhampar cukup luas. Jika kuingat ingat lagi, sepertinya aku belum pernah ke tempat seperti ini. Entah karena jamanku dulu hal semacam ini masih jarang, atau karena aku yang lupa. Ibu memandangiku yang masih terpesona dengan area bermain ini. "Mau masuk?" tanyanya. Aku mengangguk kencang. Meski akhirnya aku tidak mungkin boleh masuk oleh mbak-mbak penjaganya. 
Culiklah seorang anak kalau mau masuk ke sini
Setelah puas, kami berdiri dan berniat pulang. Di penghujung wahana, sebuah kolam bola dan mobil-mobilan terlihat. "Inget? Dulu kau sering minta masuk kolam bola dan main mobil-mobilan seperti itu. Mama harus ikut masuk ke kolam bola, soalnya kalau nggak dipegangin, kau tenggelam," katanya. Aku hanya tertawa-tawa kecil. "Sekarang masuk lagi, yuk mah," ajakan yang tidak butuh jawaban.
Di rumah, puluhan album foto mengisahkan masa kecilku, dan aku masih ingat, ada foto-foto ketika aku masih cukup usia untuk naik mainan-mainan semacam ini. Foto membuktikan, bahwa aku nyaris pernah mencoba semuanya. Tapi potongan memori yang dimakan waktu belasan tahun ternyata cukup membuatnya tersimpan cukup jauh di ruang yang terlupakan. Dan itu membuatku terpesona lagi. Sekali lagi, pada dunia anak-anak.

Komentar

Postingan Populer