2 Euforia, 1 Manusia di Usia 21
Jam tua di ruang tengah sudah berdentang, pertanda lewat tengah malam. Aku masih khusuk dengan laptop ditemani Nae. Melihat tayangan yang tidak bisa kupahami sama sekali. Sampai kemudian terdengar kasak-kusuk, lalu Hildan membuka pintu depan. Suara nyanyian dengan warna vokal campuran itu mengalun dari luar. Nuri memegang kotak lengkap dengan nyala lilin di atasnya, sementara Elfa memeluk kotak angry bird erat. Aku tersenyum lumpuh.Semakin mendekat, kemudian menghadapkan api kecil
berkilat itu di depanku. Sekali, dua kali, setiap berhasil mati, selalu kembali
berkobar. Hingga dengan sekuat tenaga, mereka berempat ikut membantuku
meniupnya.
Kemudian kupasang timer untuk memamerkan wajah kalian. Sayang sekali Okky dan Alma sudah kembali ke subunit mereka, sementara Jibe sudah melingkar di kamar.
Meniup api yang
enggan padam
NB: Hildan yang
motret
|
Kubuka kotak berbalut angry bird
itu. Terlihat sepasang sepatu kets putih, lengkap dengan tanda tangan 21 orang
rekan se unit KKN. Aku tahu pasti, ada 8 orang yang tidak sedang berada di
tempat. Tapi terimakasih telah memalsukan tanda tangan mereka.
Dini hari beranjak, sampai pada sore itu, lagi-kali kita menghabiskan waktu bersama.
| Buka bersama |
Sepulangnya dari buka bersama, suasana berubah sendu. Dering di HP
beberapa dari kalian menorehkan perasaan tersirat yang membuatnya begitu. Aku
duduk manis di salah satu kursi ruang tamu, hingga tiba-tiba nyala kembang api
dan nyanyian sumbang yang merdu itu terdengar lagi. Jibe, Anggit, Okky dan Alma, mereka yang tanda tangannya
termasuk dipalsukan itu, baru kembali dari Jogja. Dibawanya berbagai macam kembang api. Permainan yang sudah berhari-hari kuinginkan.
| Tiupan dalam gelap |
| Foto terakhir hari itu |
Belum termasuk rangkaian bagaimana usaha kalian mencegahku ikut Nae dan Hildan pergi. Atau telepon rahasia yang secara tidak sengaja kuangkat. Atau kecurigaan yang tetap kupendam dalam-dalam, ku anggap tidak penting. Hari itu memperlihatkanku bagaimana Tuhan menghibur hati. Kadang apa yang ku kira peduli, ternyata tidak peduli. Dan kadang yang ku anggap tidak berarti, justru memberikan sesuatu yang jauh lebih bermakna.
Ungkapan yang entah kalian sebut apa ini, telah bertaut padaku. Terimakasih, telah menjaga nyala hati yang hampir padam ini.
-2 Agustus 2013-

Komentar
Posting Komentar