Mengapa Pengetahuan Bahaya Merokok Tidak Menghentikan Perokok?

            Kita tidak asing dengan pengetahuan tentang bagaimana merokok dapat memberikan efek buruk pada kesehatan baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Bahkan di bungkus rokok, peringatan mengenai bahaya merokok sudah dicantumkan berupa gambar. Merokok juga membuat anggaran belanja pribadi bertambah. Namun perilaku tersebut nampaknya tidak terpengaruh dari peringatan dan pengetahuan terkait konsekuensi negatif yang ada.

         Pada perilaku merokok, ketika seseorang mengetahui bahwa merokok tidak baik untuk kesehatan namun masih melanjutkan perilaku merokoknya, orang tersebut akan mengalami keadaan yang disebut disonansi kognitif (Graham, 2007). Baron & Byrne (2005) mendefinisikan disonansi kognitif sebagai keadaan internal yang tidak menyenangkan, merupakan hasil ketika individu menyadari ketidakkonsistenan antara dua atau lebih sikap atau antara sikap dan tingkah laku. Menurut Sarwono (2000) rasa tidak nyaman akibat disonansi kognitif seharusnya berusaha untuk dikurangi. Terutama bagi perokok yang sudah beranjak dewasa, pengaruh pergaulan tidak lagi menjadi faktor utama untuk melanjutkan perilaku merokok, dimana mereka sudah mulai menyadari kognisi-kognisi berlawanan mengenai perilaku merokok.

Sayangnya, upaya mengurangi disonansi kognitif tidaklah sama dengan mengubah perilaku. Franzoi (2003) menerangkan bahwa perokok akan melakukan beberapa hal jika mereka mengalami disonansi kognitif. Hal-hal tersebut bertujuan untuk mengurangi tekanan psikologis tidak nyaman yang terjadi. Yang pertama adalah mengubah sikap, yaitu dengan mengubah sikap mereka pada rokok agar lebih positif dan membuat pemikiran mereka konsisten dengan perilakunya. Kedua, menambahkan kognisi baru, yaitu dengan memberi alasan yang membenarkan perilaku merokok mereka, sehingga menjadi konsonan. Ketiga adalah mengubah kepentingan dari pengetahuan yang tidak sesuai. Misalnya, perokok jadi mengurangi rasa penting dari kesehatan untuk menemukan aspek rileks dalam merokok. Keempat adalah mengurangi perasaan bahwa merokok merupakan pilihan. Kelima adalah mengubah perilaku yang membuat seseorang merasa disonan, yaitu berhenti merokok. Faktor motivasi dan keinginan juga berpengaruh dalam keadaan disonan (Sarwono, 2000).

Daryl Bem (West & Turner, 2008) mengungkapkan bahwa disonansi dalam kognisi seseorang tidak mendorong untuk terjadinya perubahan. Perasaan tidak nyaman pada perokok tidak hanya berasal dari disonansi kognitif terkait pengetahuan berlawanan soal efek kesehatan dan fakta bahwa perilaku merokok masih berlanjut. Rasa tidak nyaman juga terjadi ketika seseorang tidak merokok atau mencoba berhenti merokok, sehingga rasa tidak nyaman akibat disonansi kognitif tidak membuatnya mengubah perilaku. Selain itu, sekalipun ia mengetahui bahwa merokok kurang baik bagi kesehatan, tetapi ada beberapa perokok yang juga menemukan bahwa keluarga mereka yang perokok berat masih sehat. Hal ini dapat membuat pengetahuannya soal bahaya kesehatan merokok menjadi tidak konsisten baginya. Ia pun akan cenderung menghindari data atau informasi lain yang memberi penjelasan lebih lanjut terkait masalah kesehatan yang muncul akibat merokok.

Lebih lanjut, bahan kimia yang ada di dalam rokok memiliki andil cukup besar dalam reaksi emosi perokok yang mungkin mempengaruhi perilaku merokok, misalnya nikotin. Gejala putus nikotin antara lain iritabilitas, cemas, frekuensi denyut jantung menurun, nafsu makan meningkat, gelisah, dan gangguan konsentrasi (Sadikin & Louisa, 2008). Hal tidak menyenangkan yang terjadi ketika mengalami gejala putus nikotin, bisa jadi lebih tidak menyenangkan dibandingkan dengan disonansi kognitif yang dialami.

Disonansi kognitif bersifat dinamis dan pilihan seseorang untuk menguranginya dapat beragam, tidak selalu perubahan perilaku. Hal inilah yang kemudian membuat pemahaman terkait akibat buruk merokok tidak selalu mampu membuat seseorang berhenti merokok.

 

Baron, R A, & Bryne. 2005. Social Psychology, 10th edition (Diterjemahkan oleh Dra. Ratna Juwita, Dipl. Psychl). Jakarta: Erlangga

Franzoi, SL. 2003. Social Psychology. New York: Mc Graw Hill

Graha Graham, RD. 2007. Theory of Cognitive Dissonance As It Pertains To Morality. Journal of Scientific Psychology. 20-23. http://psyencelab. com/images/Theory_of_cognitive-_dissonance_as_it_pertains_to_morality. pdf.

Sadikin, ZD, &Louisa. 2008. Program Berhenti Merokok. Jurnal Kedokteran Indonesia. Vol 58 no 4.

Sarwono, S W. 2000. Teori-Teori Psikologi Sosial. Grafindo Persada: Jakarta

West, R& JH. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi(diterjemahkan oleh Nina Setyaningsih). Jakarta: Salemba Humanika

West

Komentar

Postingan Populer