Mengenal Ruminasi Kemarahan sebagai Pemicu Perilaku Agresif
Kita tidak asing dengan berita kekerasan yang belakangan ini muncul di media. Paparan kekerasan, baik sebagai pihak yang menyaksikan maupun korban langsung, sama-sama memberikan efek negatif pada seseorang, secara fisik maupun psikologis. Hal ini menjadi lebih rumit ketika kekerasan terjadi dalam keluarga dan sudah dialami sejak masih anak-anak.
Akibat kekerasan yang dialami anak bisa
berdampak jangka pendek maupun jangka panjang, dapat meningkatkan perasaan tidak berdaya, hingga trauma pada anak.
Kekerasan yang terpapar tidak hanya berdampak ketika seseorang masih anak-anak,
tetapi dapat pula dibawa sampai dengan dewasa. Anak dengan pengalaman kekerasan
dalam keluarga juga erat dengan rasa takut, kehilangan keyakinan dan
kepercayaan diri, serta kehilangan kepercayaan pada orang lain, terutama untuk
anak perempuan (McGee, 2003).
Salah satu hal yang berpotensi menjadi efek jangka
panjang yaitu anak yang mengalami paparan kekerasan dapat menjadi orang yang
emosional dan berpotensi melakukan kekerasan juga. Anak dengan pengalaman
kekerasan dapat memiliki kecenderungan untuk mengalami ruminasi kemarahan yang
membuatnya lebih mudah terpancing ketika mengalami peristiwa yang membangkitkan
kemarahan. Terlebih, paparan kekerasan yang menjadi pengalamannya membuatnya
belajar bahwa cara melampiaskan rasa marah adalah dengan kekerasan. Hal inilah
yang kemudian memicunya untuk lebih mudah melakukan perilaku agresif, walaupun
tidak semua tindakan agresif berasal dari dinamika psikologis yang serupa.
Terkait ruminasi, penelitian mengindikasikan bahwa
remaja dan orang dewasa yang masa kecilnya pernah mengalami perlakuan tidak
menyenangkan (abusive), akan cenderung mengalami ruminasi (Heleniak,
dkk, 2015). Ruminasi adalah pikiran berulang mengenai penyebab, konsekuensi,
dan simptom dari memori negatif (Hoeksema, 1991 dalam Smith & Alloy, 2009).
Ruminasi menyebabkan seseorang memelihara emosi negatif lebih lama dari
biasanya. Hal ini menyebabkan pikiran dan perasaan negatif
berulang terus menerus, serta meningkatkan efek depresi dan kemarahan (Orth,
dkk., 2008).
Dengan adanya ruminasi kemarahan, seseorang lebih
sering menginterpretasi kejadian dalam hidup sebagai peristiwa yang menimbulkan
stres (Smith & Alloy, 2009). Interpretasi negatif ini membuat seseorang
lebih mudah tersinggung, sehingga membuatnya bereaksi berlebihan terhadap
provokasi terhadap hal kecil (Winch, 2013). Akibatnya, orang dengan ruminasi
kemarahan seringkali melampiaskan frustrasi pada teman dan anggota keluarganya
(Winch, 2013).
Seseorang yang terjebak dalam ruminasi kemarahan
dapat tenggelam dalam rasa marah dan benci, sehingga membuatnya mudah merasa tersinggung
dan tersudut (Winch, 2013). Ruminasi bisa meningkatkan motivasi
seseorang untuk bertindak agresif (DiGiuseppe dan Tafrate, 2007). McGee (2003) menerangkan bahwa
kemarahan anak karena paparan kekerasan dalam keluarga dapat menyebabkannya
menjadi lebih agresif daripada sebelumnya. Kemarahan ini juga yang menjadikan
anak memiliki keinginan kuat untuk menyerang balik pelaku sebagai bentuk protes
dan balas dendam. Beberapa anak menyadari perubahan perilaku yang membuat
mereka lebih mudah marah dan kasar terhadap orang-orang di sekitarnya ketika
beranjak remaja, bahkan benar-benar berani menyerang orangtua mereka ketika
beranjak dewasa (McGee, 2003).
Ruminasi
kemarahan dan tindakan agresif merupakan hal yang terkait. Orang yang melakukan
tindak agresif saat marah seringkali merasa kehilangan kontrol atas perilaku,
serta kehilangan kemampuan untuk mengendalikan pikiran mereka saat marah
(DiGiuseppe & Tafrate, 2007). Penelitian
yang dilakukan Anestis, dkk. (2009) menemukan bahwa ruminasi kemarahan secara
signifikan memprediksi adanya agresi fisik, agresi verbal, dan rasa permusuhan
atau kebencian.
Anak dengan pengalaman kekerasan, beresiko menjadi orang yang menyimpan kemarahan, mudah terpancing emosinya, serta melanjutkan rantai kekerasan pada orang di sekitarnya. Hidup dengan memiliki ruminasi kemarahan pun bukan hal yang nyaman karena banyak sekali energi yang terlibat untuk berhadapan dengan situasi sehari-hari. Hal ini perlu menjadi perhatian, dimana dibutuhkan kesadaran dari individu terkait kondisi emosionalnya. Bila memang ada ruminasi kemarahan yang membuatnya merespon kemarahan dengan sangat cepat dan berlebih, maka dibutuhkan upaya untuk belajar mengelola emosi dengan lebih baik.
Anestis, M. D., Anestis, J. C., Selby, E. A., & Joiner, T. E. (2009). Anger rumination across form of aggression. Journal Personality and Individual Differences, 46, 192-196. doi:10.1016/j.paid.2008.09.026Besharat, M.A & Pourbohlool, S. (2012). Mediation effect of anger rumination on the relationship between dimensions of anger and anger control with mental health. International Journal of Psychological Research, 6, 948-953
DiGiuseppe, R. & Tafrate, R. C. (2007). Understanding anger disorders. New York: Oxford University Press
Heleniak, C., Jennes, J. L., Stoep, A. V., McCauley, E., & McLaughin, K.A. (2015). Childhood maltreatment exposure and distruptions in emotion regulation: A transdiagnostic pathway to adolescent internalizing and externalizing psychopathology. Journal Cogn Ther Res, 40, 394-415. doi: 10.1007/s10608-015-9735-z
McGee, C. (2003). Childhood experiences of domestic violence. London: Jessica Kingsley Publishers
Orth, U., Maercker, A., Cahill, S. P., & Foa, E. B. (2008). Anger and posttraumatic stress disorder symptoms in crime victims: A longitudinal analysis. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 76(2), 208-218, doi: 10.1037/0022-006X.76.2.208
Smith, J.M. & Alloy, L. B. (2009). A roadmap to rumination: A review of the definition, assessment, and conceptualization of this multifaceted construct. Clin Psychol Rev, 29(2), 116-128. doi:10.1016/j.cpr.2008.10.003
Winch, G. (2013). Emotional first aid (1st
ed). New Zealand: Moonrising

Komentar
Posting Komentar